Mengukur Ekor

Maksudnya mengukur ekor adalah mengukur kemampuan masing-masing. Ya soalnya kan panjang ekor tiap kucing beda-beda. Begitu juga dengan kemampuan manusia. Kemampuan untuk memelihara kucing dirumah..Biar gak jadi semacam hoarder gitu deh..

Alkisah beberapa waktu lalu terjadi percakapan demikian antara seorang mama dan seorang ompapa.

“ Kita ke Jakarta yuk minggu depan,Jumat sore pulang kerja berangkat, Minggu sore pulang. Kan mas cuti juga” kata Mama

“Ngapain? Kalo Sabtu berangkatnya ya sama aja bohong, masa jalan-jalan diakhir cuti, kebalik namanya, Lagian cuma sehari di Jakarta, cuma dapat cape-nya aja.” Ompapa menatap curiga.

“Errr..ya kan aku gak bisa cuti, bisanya cuma weekend, lagian aku dah lama gak ketemu mama.”

“Kenapa gak minggu depannya aja? Kan long weekend Lebaran Haji “

“Emm..soalnya minggu besok anak-anak perkucingan ada bikin acara hari Sabtunya.”

“Lah, katanya mau ketemu mama?? Kok ke acara perkucingan? Kalo ke mama ya langsung ke Depok aja gak usah ke acara kucing. Kenapa sih kamu ngebela-belain banget ke acara kucing..??”

“ Ya nggak gitu..kan bisa sekalian ketemu mama ama ketemu teman-teman..dari bandara langsung ke perkucingan, langsung ke depok, jalan2 ama mama trus subuhnya balik Sangatta.”

“Nggak..”

Bla..bla..blaa..blaaa..Percakapan ini berulang selama 2 minggu sebelum acara Beautiful Day for Cats berlangsung bulan Oktober kemaren. Hasilnya tentu udah ketahuan kan kalo perdebatan ini dimenangkan oleh mama. Setelah sempat emosi karena hasil kesepakatan yang berubah-ubah, jadi, gak jadi, jadi dengan persyaratan tertentu, hampir gak jadi, hampir jadi, trus nyaris gak jadi lagi. Begitu terus selama 2 mingguan.  Dan mama belum bisa yakin sebelum take off pesawatnya…huihihihi..

“Kenapa sih kamu bela-belain banget ke acara perkucingan?”

Pertanyaan ompapa ke mama ini membuka diskusi dengan topik baru. KUCING.

Ompapa bilang kalo sebenarnya dia gak terlalu suka kalo mama terlalu terikat dengan kucing-kucing, sampai mengorbankan waktu dan tenaga yang berlebihan, juga biaya tentunya.

“Aku bukan pecinta kucing kayak kamu, tapi juga gak benci sampai tega menyakiti. Aku suka karena kamu suka sama kucing, aku ijinin kamu miara kucing segini banyak karena bikin kamu bahagia. Tapi kalo sudah sampai merepotkan kamu dan bikin kamu mulai kehabisan waktu karena kucing-kucing dirumah, aku gak suka.”

“ Ya tapi mas kan suka juga main ama mereka..tidur juga ama mereka.”

“ Iya, kan sudah bilang kalo gak benci, gak bilang kalo gak suka. Tapi sewajarnya, kalo kucing sudah mulai pup di tempat tidur,pipis sembarangan, dan aku disuruh bersihkan litter, aku gak mau. Harus ada batasannya.”

“……Iya…” Hep..mama diam. Gak mau melanjutkan perdebatan.

Dalam hati sebenarnya mama juga membenarkan perkataan ompapa.  Kecintaan terhadap sesuatu emang gak boleh dipupuk secara berlebihan sampai mengorbankan sekeliling kita. Dalam batas kewajaran, dan menjaga kewajaran itu demi hubungan kita dengan lingkungan. Sama halnya dengan kecintaan terhadap kaum aku yang keren-keren dan lucu. Kucing.

Dulu waktu masih tinggal di mess, dengan jatah sepetak kamar doank, mama hanya berani memelihara 2-5 ekor kucing, maksimal. Itu yang boleh masuk kamar dan numpang tidur. Kucing-kucing lain hanya sekedar dikasih makan kalo datang. Karena mama gak enak dengan tamu-tamu mess lain dan penjaga mess yang –siapa tahu- terganggu dengan adanya kucing. Sempat juga sih terjadi konflik antara mama dengan penjaga mess karena kucing. Yang dimenangkan oleh kucing eh, mama hihihi.. Tapi sekarang karena sudah dapat rumah pinjaman dari kantor dengan halaman depan belakang yang luas, mama mulai berani memelihara lebih banyak. Itupun masih takut dan kuatir kalo jumlahnya semakin bertambah. Padahal ada tante-tante pernah bilang kalo di halaman rumah aku buat menampung ratusan kucingpun bisa. Semacam Carboodle Ranch gitu.

Tapi kenapa mama gak mau kalap? Mentang-mentang area luas terus munguti semua kucing2 yang ditemukan mama?

Ya sekali lagi karena alasan menjaga kadar kewajaran.  Menjaga hubungan dengan orang disekitar mama. Karena mama gak hidup sendirian.

Oya, diklinik tempat aku juga mama membatasi hanya aku dan sekarang Emak yang jadi resident-nya. Kucing2 lain semacam si Item pacarnya Emak hanya diperbolehkan datang minta makan trus pergi. Itupun aku disodori berbagai persyaratan buat tinggal. Diantaranya gak boleh ribut selama jam kerja, gak boleh pip dan pup dihalaman klinik, pokoknya kalau bisa gak ada yang tau kalo ada dua kucing menghuni klinik. Wilayahku sebatas dapur dan halaman belakang. Sekali-sekali boleh masuk ke dalam tanpa membuat keributan, boleh juga tidur-tiduran di kursi tunggu pasien selama gak ada orang. Trus bisa sekali-sekali nyeludup ke ruangan mama. Sejauh ini, gak ada teguran dari bos mama soal keberadaan kami disini.

Karena aku pintar, jadi gak pernah ada pasien yang protes soal kucing di klinik. Mama pun tenang. Kalau tiba-tiba ada kucing yang mengeong tanpa henti, itu pasti pendatang baru. Biasanya sih gak lama, sehari dua hari trus mereka pergi entah kemana. Mungkin cuma tersesat

Kembali ke soal kewajaran. Ompapa selalu mengingatkan mama agar jangan sampai menjadi animal hoarder. Hihihihihi…Jangan karena mentang-mentang suka sama kucing jadinya semua kucing yang ada mau dipelihara, dibawa pulang. Dan mama pun mengingat itu selalu. Karena mengerti juga kemampuan dia sampai mana. Tidak memaksakan diri.

Bukan gak punya hati. Bukan masalah tega gak tega. Kalo mau dituruti katanya hati yaaa bakalan gak tega terus. Tapi kan emang perlu melihat ke sekeliling dulu dan yang gak kalah penting melihat diri kita sendiri *siapin cermin gede setinggi badan buat mama* dan bertanya, “Mampu gak..?”

Dirumah, selain menjaga perasaan ompapa, mama menjaga perasaan tetangga sekitar, walaupun jarak antara rumah cukup jauh, tapi pasukan berbulu itu masih bisa main menenangga ke rumah samping atau malah menyeberang ke rumah depan. Mereka emang semi-outdoor. Selama ini sih belum ada protes soal pasukan berbulu sih, tapi mama sendiri yang sering kuatir. Kuatir kalau pasukan itu iseng meninggalkan tumpukan tanda mata dihalaman atau diteras tetangga. Kuatir kalau mereka tiba-tiba mengklepto ikan atau ayam goreng tetangga. Kuatir kalau tiba-tiba mereka membawa pulang anak ayam tetangga. Dan kuatir kalo mereka berkelahi mengeong nyaring yang mengganggu ketenangan tetangga, apalagi kalau berkelahinya ditengah malam. Hadoooooh…Ngengaongan sepanjang malam. Kekuatiran semacam itu. Ya namanya juga menjaga perasaan manusia lain yang belum tentu suka dengan kucing dan gak bisa dipaksakan untuk suka. Walau kadang anak-anak itu sering pulang berbau wangi parfum orang asing yang bikin ompapa dan mama menebak-nebak siapa yang habis mendusel-dusel mereka hihihihi..

Alhamdulillah tetangga sekitar cukup toleran. Karena toleransi mereka itu pula mama berusaha keras agar populasi piaraan gak bertambah. Walau susah sekali karena selalu saja ada anggota baru yang datang, sebab rumah hanya fasilitas kantor, kalau mama kalap terus nanti akhirnya kebablasan kan bisa saja berujung teguran dari pihak kantor karena fasilitas mereka dijadikan semacam penampungan.  Semua akan rugi kalau timbul larangan memelihara binatang. Hoowaaaaa….

Menjaga populasi pasukan berbulu juga secara langsung menjaga kondisi kesehatan populasi isi dompet mama kikikikkiik…Hal ini sangat penting. Bukan karena pelit. Tapi rasional. Akan gak lucu lagi kalau kondisi anggaran rumah tangga mama terganggu oleh populasi kucing yang semakin bertambah. Perlu diingat dengan menambah satu ekor kucing itu artinya menambah satu jiwa lagi untuk diberi makan. Ya emang sih gak banyak makannya. Tapi kalau kucingnya sudah puluhan?? Tinggal ambil kalkulator saja.  Nah kalau mampu dan berkelebihan ya gak masalah. Untungnya mama masih bisa membiayai makan kami dengan uang pribadinya, walau kadang sering minta ompapa juga hihihi…  Tapi kalau untuk sehari-hari saja masih dijatah ama pasangan bagaimana? Belum lagi kalo sudah punya anak manusia..hadoooow.. Mama yang belum punya anak aja sering geleng-geleng kalo ngitung pengeluaran buat kami. Makanya dia gak berani lagi ngitung hoahahahahaa… deg2an banget katanya.

Eh aku juga kenal sih beberapa manusia mulia yang memelihara banyak banget temanku dan hidup saling menemani meski dalam kekurangan. Tapi coba perhatikan, mereka umumnya sudah sendirian dan gak ada tanggungan  lagi. Jadi mereka bisa berbagi rezeki dengan pasukan berbulu. Kadang mungkin mereka mengalah agar kucing-kucingnya bisa makan dan mereka harus puasa tanpa ada protes dari keluarganya. Walaupun mungkin protes datang dari pihak tetangga ihihihihi..Mereka ini, hidup seadanya berbagi apa yang dia punya walau sedikit. Tapi justru bantuan selalu datang dari arah yang tidak diduga, buat mereka dan kucing-kucingnya.

Jadi kalau memang kondisi perekonomian tidak memungkinkan. Janganlah terlalu dipaksakan. Titik. Karena lama-kelamaan bakalan bikin depresi dan bingung sendiri. Akhirnya semua jadi korban, baik kucingnya maupun manusianya. Anak manusia aja ama pemerintah manusia disuruh batasi, apalagi piaraan hihihi..*ini pasti aku udah banyak yang mau jitak*

masih tersisa hasil duel di hidung

Masalah manajemen waktu.

Mamaku, mengurus aku dan emak diklinik dibantu ama Ibu CS pahlawanku. Kenapa pahlawan? Iya donk, soalnya Ibu cs yang menjamin ketersediaan ikan aku setiap hari. Ibu Cs juga yang setia membersihkan sisa makan aku.  Kalau mama sih cuma ngasih uang aja setiap akhir minggu buat belanja ke pasar, bantu bersih-bersih juga sih kalo ada waktu. Aku gak begitu merepotkan. Kucing pintar *sisir poni*

Tapi pasukan berbulu yang dirumah, mamaku sendiri yang mengurus. Gak punya asisten tetap, hanya tukang setrika dan tukang kebun yang datangnya kapan mereka mau. Gak tiap hari. Itu aja repotnya minta ampun. Apalagi mamaku itu semacam penderita OCD (obsesif-compulsif disorder) ringan huihihihi..OCD itu semacam orang yang terobsesi akan sesuatu. Mama dalam hal ini terobsesi kebersihan terutama kebersihan lantai wkwkwk…Dia orangnya gak bisa istirahat kalo gak memastikan rumah bersih. Mengepel bisa 2-3 kali sehari. Waktunya banyak terbuang buat mengepel rumah. Ompapa bilang rumah masih bersih, tapi mama bisa dengan ekspresi datar bilang masih kotor dan langsung mengepel seluruh rumah terutama ruangan kucing. Yang dilakukan sebelum brangkat kerja, ngepel. Kalo pulang istirahat siang, ngepel. Sore pulang kerja, hampir bisa dipastikan, ngepel. Malam sambil nonton tipi terus liat lantai ada kotoran dikit, ambil kain pel juga. Sampai ada seorang mamih yang kebetulan liburan ke rumah bingung ngeliat mama ngepel setiap ada kesempatan. Mungkin cocok nih mama jadi bintang iklan pembersih lantai.

Nah, proses pengepelan itu bisa memakan waktu 2 – 3 jam kalau ditotal dalam sehari, belum lagi bersihkan litter, membakar koran litter, ngasih makan, mengkukus ikan, nyuci piring habis makan pasukan, menggosek panci bekas kukus ikan (ini panci juga musti kinclong seperti baru, biasanya 10 menit lebih buat nyuci satu panci ini..OCD oh OCD..). Trus para kucing habis makan kekenyangan ada yang muntah, ngepel lagi..sambil ngomel dan bilang gak bakal dikasih makan setahun, yang terbukti cuma ancaman kosong belaka. Lalu ada yang kelahi trus bulu beterbangan. Ngepel lagi. Ada yang dikejar aku..*ups! lari masuk ke dalam rumah sambil terpupup-pupup en pipis..hihihi..selamat ngepel ya ma..

Itu dengan kondisi kucing dirumah 20-an, dan seorang ompapa. Mama juga gak dibebani tugas memasak, soalnya lebih hemat beli jadi aja katanya. Gak kebayang gimana repotnya mama kalo sudah punya bayi manusia, trus harus memasak pula. Ompapa apa kabar gak terurus? Dipulangkan saja ke rumah orang tuanya gitu? Hihihihi… Mungkin emang harus punya asisten multiguna. Kalau gak pasti semua terbengkalai. Gak ada waktu buat santai kayak dipantai. Dan mamapun iri ama tante-tante yang punya asisten tersendiri buat kucing-kucingnya.

Populasi kucing dirumah yang terlalu banyak juga akan susah membagi kasih sayang dan memperhatikan mereka satu per satu. Gak cukup waktu untuk semua itu.

Jadi aku salut sih ama manusia-manusia yang kucingnya banyak tapi bisa mengurus sendiri semuanya. Tapi kalau mau jujur, pasti ada hari-hari mereka merasa teramat lelah mengurus semuanya. Ada waktu dimana mereka tiba-tiba menangis merasa gak berdaya dan hanya bisa melihat sekeliling dengan hampa. Trus tiba-tiba emosi memuncak dan melampiaskan ke sekelilingnya. Karena mama kadang gitu, kalau sudah stress dikerjaan, trus dilanjutkan repot pula dirumah, mama akan berubah jadi harimau betina yang siap menggigit orang-orang disekitarnya. Akhirnya ompapa yang terkena imbas pun akan marah. “Kucing yang salah kenapa aku yang ditumbalkan?” hihihi…untungnya ngambek-ngambekkan gak bertahan lama.

Manusia gak selalu hidup senang kan? Ada sehat ada sakit..ada saat diatas, ada waktunya terpuruk jatuh. Nah, sebaiknya –seperti kata mamaku- kita selalu memikirkan kemungkinan terburuknya terlebih dahulu. Bukan bermaksud berprasangka jelek, tapi agar dapat mengantisipasi kalau kemungkinan-kemungkinan yang gak dikehendaki itu terjadi.

Misalnya, kalo mereka sakit, pasti heboh untuk karantina, dan segala kerepotan lain yang bertambah-tambah biar gak menulari yang lain. Kalau sampai gak bertahan pun sedihnya berlipat ganda karena biasanya mereka tumbang bersamaan.

Kalau manusianya yang sakit ? Otomatis akan merepotkan manusia lain disekitarnya. Kalau yang dimintai tolong juga suka dan bersedia diserahi kucing setingkat kompi mungkin gak ada masalah, tapi beda ceritanya kalau dirumah itu hanya satu penyayang kucing.

Seperti ompapa, yang sudah mewanti-wanti mama kalau dia gak mau disuruh merawat kucing. Jadi kalau mama pergi ke luar kota, ompapa akan ikut mengungsi juga ke Camp yang disediakan kantornya. Dia gak mau dibebani dengan merawat kucing dirumah. Akhirnya lagi-lagi minta pertolongan Ibu Cs. Nah, kalau ibu Cs gak ada?? Apa yang terjadi? Harus bagaimana? Mamapun pusing mikir solusinya.

Jadilah sedapat mungkin kucing-kucing dirumah dibatasi jumlahnya. Dengan cara steril itu pasti salah satu yang akan ditempuh. Tapi berusaha menutup mata dan menguatkan hati- walau berat – kalau melihat kucing dijalan itu juga harus dilakukan. Jangan dibawa pulang, kalau bisa diberi makan saja ditempat mereka. Apapun yang terjadi biarkan mereka menjalani takdirnya. Kecuali ya kasus-kasus tertentu sih..semisal kucing tertabrak, dibacok atau penganiayaan lainnya.

Banyak tante-tante aku yang bilang maaf rumah aku sudah over populasi. Gak bisa nampung lagi. Ya itu karena mereka mengukur kemampuan agar gak kebablasan. Tega gak tega akhirnya membiarkan kucing-kucing yang ditawarkan kembali ke jalan atau mencarikan adopter. Tapi mencari adopter sulitnya bagai mencari jarum dalam jerami. Kecuali buat kucing bule atau yang ganteng macam aku pasti banyak yang antri *sisir poni*

Hauuuuunggggg..panjang.

Ya sudahlah, pokoknya buat manusia yang cinta ama teman-teman aku, terima kasih banyak yah. Tapi sebagaimana kata-kata pinter “be responsible owner” itu gak cuma buat urusan steril, vaksin, makan dan elus-elus aja. Tapi pemiliknya juga harus bertanggung jawab dengan dirinya sendiri dan sekitarnya sebelum bertanggung jawab pada peliharaannya. Menjaga populasi kucing dirumah juga salah satu tanggung jawab terhadap kucing itu sendiri. Kalau kebanyakan kucing juga bakal stress. Kami ini sifatnya individual loh.. Kami mana mau hidup dempet-dempetan kalo gak terpaksa? Kami pengen punya teritori masing-masing. Dan itu akan sulit kalau manusia mengumpulkan terlalu banyak kucing di rumah.

Selain itu pemilik juga musti bertanggung jawab terhadap tetangga sekitar atau orang didalam rumah itu. Tidak boleh memaksa mereka harus suka kucing. Lakukan edukasi, pelan-pelan. Tempatkan posisi owner diposisi mereka. Mencoba berpikir dari sisi mereka. Apa yang kira-kira mereka harapkan dari pemilik kucing yang banyak? Jangan sampai kucing di rumah mengganggu tetangga dan akhirnya tetangga itu bakal tega menyakiti teman-teman aku. Kalau terjadi semacam itu mari instropeksi, jangan menyalahkan terlalu berlebihan. Mungkin kucing yang dimiliki sudah terlalu banyak jadi gak semuanya bisa diawasi sehingga membuka kesempatan untuk di sakiti manusia-manusia yang berhati tega sekejam ibu tiri.

Kemampuan setiap manusia berbeda. Kalau hanya bisa memelihara satu..cukup satu. Maksimal dua. Kalau hanya bisa tiga ya cukup tiga kucing di rumah. Selebihnya beri makan saja dijalan. Bawa makanan kucing kemanapun untuk menyalurkan hasrat memiliki kucing banyak yang gak sampai. Kalau bisa memelihara lebih dari 10 atau 20 ya beruntung banget, dan sudah harus berhati-hati agar gak kebablasan. Kalau lebih dari itu…sebaiknya perlu dipertimbangkan masak-masak segala kemungkinannya. Kembali lagi ke pertanyaan. Mampu gak? Mampu untuk merawat sendiri atau menggaji asisten pribadi? Mampu untuk tidak merepotkan orang lain? Mampu untuk menyiapkan hati bila ditinggal pergi? Mampu memberikan yang kenyamanan buat teman-teman aku? Dan apa mampu untuk menghindari konflik dengan orang sekitar? Kalau benar-benar yakin mampu..betapa kerennya.

Karena mamaku aja gak mampu sih…apalagi sudah ada peringatan dari ompapa.  Gak suka katanya.

Dan dari dalam kamar mandi terdengar ompapa bernyanyi :

“Kucingku teluuuu…kabeh lemu-lemuuu

Sing siji abang..sing loro klawuuu..

Meooong..meoong..tak pangani lonthong…

Hati ku seneng..koncoku ndomblong…”

Laaah..katanya gak soookaaaaaa…?????!

–_–“

merenungi ekor

Iklan

4 comments

  1. merasa senasib ama cerita di atas, mengukur ekor, bedanya saya masih di kosan dan belum berkeluarga. satu ekor kucing kampung yg sudah nurut banget, terpaksa harus dikasihkan ke adopter dikarenakan bapak kosan dan tetangga kosan ada yang ngomong. untungnya ada adopter yg bersedia merawatnya. akhirnya sekarang hanya punya 1 kucing itu pun di rumah. sempet ngakak baca endingnya :D.

  2. wahhhhhh, tulisan di atas serasa membaca kisah ku sendiri, sama persis, emang harus aku kaji ulang lagi nih, harus di tega tegain,udah cape urus kucingku yg jumlahnya 20, tapi bingung mau di buang, kasian, taro di rumah, udah cape, tetangga juga udah berbeda ama aku, saudara juga udah banyak yg komplin, belumlagi cape pulang kerja ngepel terus, jadi OCD niih, mungkin orang kayak aku harus kumpul dan di kasih terapis gratis…..god please guide me……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s