Kisah Empat Serangkai

Seekor kucing betina dalam kondisi hamil datang ke klinik, entah dari mana asalnya. Mulanya hanya sebentar, minta makan kemudian pergi. Lama-lama betina itu mulai menetap bersembunyi di dalam port a camp tua dibelakang klinik. Port a camp atau yang dengan mudah disebut portakem adalah sebuah tempat yang awalnya merupakan container namun disulap menjadi sebuah kamar untuk beristirahat.

Hari berlalu, akhirnya kucing itu melahirkan anaknya didalam persembunyiannya. Ibu CS memberitahu mamaku kalo anak kucing itu ada empat ekor. Mama bingung, karena takut induk dan kucing-kucing itu dibuang oleh orang klinik. Well, karena itu pernah terjadi dua kali dan mama sedih sekali karena waktu itu gak bisa berbuat banyak. Kucing-kucing itu dibuang saat mama gak ada ditempat. Takut hal yang sama terjadi lagi dengan induk dan empat anaknya ini, mama bertekad menyelamatkan mereka dengan membawanya ke rumah. Syukurlah saat itu mama sudah dipinjami rumah dinas dari kantor.

induk kucing

Setelah sekitar dua minggu, para kucing kecil sudah mulai dipindahkan induknya ke dapur. Dibelakang lemari rusak yang bolong. Mama berpikir inilah saatnya untuk mengungsikan anak-anak kucing itu ke tempat yang lebih aman, sebelum datang protes dari manusia lain yang terganggu dengan mereka. Mama takut si kucing mengotori dapur, dan agak nggak enak hati kalau selalu meminta Bu CS membersihkan kotoran mereka.induk kucing1

Jadilah suatu sore dengan dibantu ompapa, mama mengangkut induk dan empat anak kucing itu didalam keranjang dan membawa mereka pulang ke rumah. Mama sudah menyiapkan kandang yang nyaman buat mereka.

induk kucing2

Tapi apa yang terjadi?? Si induk tidak menyukai rumah mama sama sekali. Mengeong tanpa henti, memaksa untuk keluar. Berhari-hari seperti itu, si induk kadang terlihat nyaman, tapi tetap waspada mencari kesempatan untuk keluar. Akhirnya mama menyerah, membiarkan si induk (yang sekarang dinamai Emak) untuk keluar rumah. Tapi Emak belum puas dengan kondisi itu, dia mulai mengangkut anaknya satu persatu kembali ke klinik. Dan mama pun mengambil anak-anak itu kembali ke rumah.

induk kucing3

Drama culik-menculik anak kucing antara mama dan Emak si induk kucing berlangsung berminggu-minggu. Hampir tiap hari. Jarak antara klinik ke rumah mama memang tidak terlalu jauh, cukup sepuluh menit jalan kaki, tapi kan lumayan juga buat seekor kucing. Apalagi harus menggendong anaknya, satu-persatu, empat kali bolak-balik. Emak melakukan itu berulang kali. Saat anaknya sudah mulai besar, mama mengurung anak-anak itu didalam rumah, tapi adegan memilukan yang sering terjadi adalah, emak diluar rumah mengeong memanggil anaknya, dan anak-anak kucing didalam mengeong menangisi induknya ingin ikut pergi. Menggapai-gapaikan tangannya dari bawah sela-sela pintu. Mama seakan-akan jadi pemisah antara induk dan anaknya. Emak selalu dipaksa masuk ke rumah oleh mama, tapi ya adegan yang sama berulang lagi, emak akan meminta keluar tanpa berhenti, dengan mengajak anak-anaknya. Jadi kebiasaan mama-ompapa dan emak adalah dipagi hari anak-anak kucing dibawa Emak ke klinik, sore atau malam harinya mama dan ompapa akan menjemput mereka dibawa pulang kerumah. Terus begitu.

Seiring anak-anak kucing semakin besar, Emak mulai jarang datang kerumah menjemput anaknya. Tetapi si anak-anak kucing yang sudah hapal jalan ke klinik, mulai pergi sendirian menyusul induknya. Hadooooh…parah..Setiap melihat pintu terbuka, mereka akan melesat dan menyelinap pergi ke klinik. Kadang mama menghadang jalan mereka, tapi sering juga gagal dan membiarkan mereka pergi. Entah kenapa mereka gak betah dirumah, mungkin karena dirumah banyak kucing mama yang lain.

kittens kitten2

Empat anak kucing itu dinamai Simba untuk yang belang hitam abu-abu, Sunny untuk yang belang  kekuningan, Sandy untuk yang calico alias belang tiga, dan Shadow untuk yang hitam legam. Disaat mereka sudah mulai mandiri dan disapih, Shadow dan Sunny memutuskan untuk tetap tinggal dirumah mama sementara Sandy dan Simba ikut tinggal bersama induknya di klinik.  Jadi penghuni klinik ada empat. Aku, Emak dan dua anaknya.

Kemudian hidup berjalan dengan indah apa adanya…empat serangkai itu tumbuh menjadi kucing remaja yang lincah dan pintar. Diselingi beberapa kali percobaan untuk merumahkan Simba dan Sandy yang selalu berakhir dengan kegagalan.

Sampai suatu hari musibah itu terjadi…

Hari Senin pagi sesampainya mama diklinik, dia dikejutkan dengan berita salah satu anak kucing mati. Tenggelam di bak kamar mandi. Dunia langsung hampa. Kata perawat, mayatnya masih ada dikamar mandi. Mamapun langsung berjalan lemah ke sana dan mendapati Sandy sudah kaku didalam bak mandi yang airnya sudah dikuras. Sandy masih cantik. Cantik sekali seperti biasa. Sepertinya baru-baru saja dia mati. Karena kemarin malam mama dan ompapa masih melihat dia sehat berlari menyambut makanan yang diantarkan. Sandy kamu kenapa? Apa kamu haus trus tercebur saat minum? Apa kamu berkejar-kejaran dengan Simba trus naik ke bak mandi lalu terpleset dan gak bisa naik lagi? Kamu pasti menderita..Kamu pasti kedinginan. Kenapa gak ada yang mendengar ngeongan kamu? Kenapa kejadiannya dihari libur disaat semua sepi?

Sandy dimakamkan dibelakang klinik, diantara rerumputan dan pepohonan yang rindang.SandySelamat jalan Sandy…bermainlah riang gembira di surga para binatang yang indah. Sampai kita berkumpul lagi. Kami menyayangimu…Sandy n Me

Tinggallah Simba sendirian, kesepian. Hari itu dia terlihat lesu, duduk diam didepan kamar mandi, meringkuk disana. Mama yang melihatnya gak tahan. Mungkin Simba sedih karena gak bisa menolong saudaranya waktu tercebur di bak kamar mandi itu. Mama membawa Simba keruangannya dan membiarkan dia tidur disana sampai siang.

Simba

Simba gak banyak bergerak, rasa kehilangannya pasti sangat besar. Tidak ingin Simba melewatkan malam sendirian diklinik, Mama membawa Simba pulang, dengan harapan dia bisa terhibur dengan saudara-saudaranya yang lain dirumah.

Simba+ Sunny Simba + Sunny

Dirumah, Simba masih diam, meringkuk dikursi. Mama gak sadar kalau saat itu fisik Simba mulai melemah. Mama pikir Simba hanya sedih karena kehilangan saudaranya. Simba mulai gak mau makan, tapi dengan badannya yang mulai kurus, dia memaksa pulang ke klinik, berkali-kali dia mencoba kabur. Ini sudah pertanda buruk. Akhirnya mama membawa Simba kembali ke klinik dengan harapan Simba lebih bersemangat makan. Tapi yang terjadi malah sebaliknya…Simba memang terlihat lebih tenang di klinik, meringkuk di depan kamar mandi, tapi gak mau makan. Mama memaksanya dengan berbagai cara agar obat dan makanan masuk ke mulutnya, tapi tampaknya malah lebih menyiksa Simba. Simba mulai diare, pipis pun gak terkontrol, badannya mulai kotor.

Simba1

Keesokan harinya, pagi-pagi mama memberi Simba obat. Lalu bekerja. Tapi di jam istirahat mama menengok Simba ke dapur, dan mendapati Simba gak ada. Simba hilang. Dengan kondisi sangat lemah terseok-seok itu Simba hilang entah dimana. Dicarilah kesekeliling tempat, bertanya ke semua orang tapi gak ada yang melihat. Mama jadi teringat kata-kata “kucing akan bersembunyi bila akan pergi”. Huwaaaa…mama semakin teriris. Dicari sampai ke hutan belakang juga gak ada tanda-tanda Simba. Mama mulai putus asa lalu berjongkok didekat pintu. Tanpa sadar mama menoleh ke tumpukan papan di dinding. Dan situlah Simba, meringkuk diantara sela-sela papan. Mama membawa Simba kembali ke rumah.

Simba

Simba yang semakin melemah, akhirnya menyusul saudaranya Sandy. Belum genap seminggu sejak kepergian Sandy.  Simba mungkin terlalu sedih sehingga membiarkan dirinya sakit. Selamat jalan Simba…udah senang kembali ya kamu bertemu saudaramu. Kejar-kejaran seperti dulu…Kami juga sangat menyayangimu..

simba2

Beberapa hari setelah kepergian Simba…Sunny mulai demam. Gak banyak bergerak seperti biasa, gak tertarik dengan bau ikan seperti biasa. Ini sudah gak bener. Ini pasti ada yang salah. Siaga satu pun dilakukan. Karena ternyata Shadow dan dua kucing lain juga mulai menampakkan gejala yang sama. Karantina dan perawatan maksimal sebisanya mama lakukan. Kenapa gak dibawa ke dokter hewan? Disini pedalaman, dokter hewan amat sangat jarang dan berjarak jauh sekali dari rumah. Tidak semudah kota besar memang…Tapi karena aku tinggal diklinik, kebanyakan obat yang disarankan oleh tante dokter hewan teman mama tersedia. Hanya konsultasi lewat hp yang bisa mama lakukan.

Sunny hanya bertahan beberapa hari..kemudian menyusul pergi…

Sunny

Mama terpukul…3 anak Emak sudah gak ada, rasanya bersalah sekali dan Shadow pun kondisinya masih sangat lemah. Memaksanya makan dan minum (dibantu ompapa) adalah proses yang menyakitkan.

Tapi suatu hari, Shadow mulai mau makan. Mama mulai lega dan berharap Shadow bisa selamat, ikan rebus dihaluskan yang dicampur suplemen selalu mama sediakan, Shadow juga mulai banyak minum dan mulai memaksa keluar dari kamar karantina. Lama-kelamaan Shadow bisa menyelinap kabur, saat mama membersihkan ruang karantina. Tapi mama belum berani mencampurnya dengan pasukan diluar. Takut virus-nya kembali menular.

Akhirnya…Alhamdulillah..Shadow benar-benar pulih. Walaupun suaranya nyaris hilang, tapi Shadow kembali segar seperti biasanya. Shadow yang dulu mengeong paling nyaring, sekarang hanya suara lirih yang terdengar. Tapi gak masalah. Shadow adalah survivor, dia berjuang hampir sebulan lebih mengalahkan penyakitnya, dan dia menang.

Sandy…Simba…Sunny…kami gak akan melupakan kalian..

 

Iklan

3 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s