What so called PENANGKARAN Hiu

Dimana ada cahaya, pasti ada bayangan berwarna hitam. Dibalik bulu kucing yang tebal dan halus pun terkadang masih ada aja kutu atau jamur yang belum diketahui owner-nya. Disaat aku makan enak, teman-teman aku kucing liar diluar sana mungkin lagi berjuang kehujanan dan kelaparan. Hidup gak ada yang sempurna. Dan aku sedih karenanya…

Masih tentang Karimun Jawa. Aku sudah bilang kan di postingan sebelumnya kalau aku dan mamaku pulang membawa luka dihati. Bukan karena ditipu, bukan karena kehilangan barang atau uang, dan tentu saja bukan karena Karimun Jawa tak seindah yang dibayangkan, tapi karena ada sesuatu yang merusak segala keindahan yang ada. Justru dihari terakhir perjalanan mama disana.

Setiap paket perjalanan ke Karimun Jawa, di itinerary atau rencana perjalanannya selalu terdapat jadwal ke penangkaran hiu dan penyu atau tertulis berenang bersama hiu, atau hanya tertulis ke pulau Menjangan Besar. Pulau Menjangan Besar memang lokasi dimana terdapat penangkaran hiu tersebut. Hal ini menyiratkan seakan-akan berenang bersama hiu adalah salah satu atraksi wajib bagi semua pengunjung Karimun Jawa. Gak lengkap kalau ke Karimun Jawa belum berenang bersama hiu.

Aku dan mamaku juga kesana, tentu saja. Kami kesana dihari kedua, demikian yang disepakati sebelumnya. Membayangkan penangkaran yang ada adalah sebagaimana sebaik-baiknya penangkaran dimana terdapat kolam pembiakan, tempat penetasan telur (untuk penyu) dan segala hal yang diperlukan untuk menangkarkan hiu-hiu yang terancam punah.

Tapi apa yang kami temui disana? Hanya dua kolam kecil ukuran 10 x  15 meter dengan kedalaman kurang lebih 1,5 meter, dibatasi batu-batu karang dan kayu seadanya serta jala entah untuk apa fungsinya. Mungkin agar ikan-ikan kecil tidak bisa lolos dari kolam. Setiap kolam diisi beberapa hiu sirip putih  dan hiu sirip hitam secara terpisah. Kolam kecil yang dangkal itu mereka tinggali bersama beberapa ikan kecil dan sedang. Bisa dibayangkan betapa padatnya. Didasar kolam banyak pula terdapat pecahan koral yang mati. Ow..inikah penangkaran yang dibangga-banggakan??!shark pool

Kolam itu kotor, airnya keruh karena setiap pengunjung yang datang pasti bergantian masuk ke kolam hiu itu secara bergerombol, tertawa-tawa, berteriak takut-tapi-senang karena hiu-hiu berenang hilir mudik disekitar mereka. Tidakkah mereka sadar kalau hiu itu stress? Tidakkah terpikir kalau hiu itu sebenarnya bukan mendekati mereka karena jinak tapi karena takut namun sudah tidak punya tempat lagi untuk melarikan diri berenang ke arah lain? Hiu itu adalah hewan yang sangat pemalu. Mereka biasa hidup dilaut yang dalam, bukan kolam yang bahkan lebih sempit dan dangkal daripada tambak ikan bandeng.

shark1

Baiklah aku akan kembali membahas apa penangkaran itu sebenarnya. Menurut Balai Konservasi Sumber Daya Alam Yogyakarta penangkaran adalah upaya perbanyakan melalui pengembangbiakan dan pembesaran tumbuhan dan satwa liar dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya. Penangkaran tumbuhan dan satwa liar berbentuk :

  1. Pengembangbiakan satwa,
  2. Pembesaran satwa, yang merupakan pembesaran anakan dari telur yang diambil dari habitat alam yang ditetaskan di dalam lingkungan terkontrol dan atau dari anakan yang diambil dari alam (ranching/rearing),
  3. Perbanyakan tumbuhan secara buatan dalam kondisi yang terkontrol (artificial propagation).

Pengembangbiakan satwa adalah kegiatan penangkaran berupa perbanyakan individu melalui cara reproduksi kawin (sexual) maupun tidak kawin (asexual) dalam lingkungan buatan dan atau semi alami serta terkontrol dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya. Pembesaran satwa adalah kegiatan penangkaran yang dilakukan dengan pemeliharaan dan pembesaran anakan atau penetasan telur satwa liar dari alam dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya.

Garis bawahi “dalam lingkungan buatan atau semi alami serta terkontrol“-nya. Jadi apa yang aku lihat kemaren di pulau Menjangan Besar sama sekali jauh dari istilah kata penangkaran. Yang tepat adalah PENYEKAPAN! Sama dengan mengurung burung berkicau dikandang seadanya. Kemudian burung itu diperdengarkan suaranya ke manusia dan manusia harus membayar kepada pemilik burung. Itu yang terjadi terhadap hiu-hiu yang malang tersebut.

hiuuu2shark

Belum lagi gangguan-gangguan yang datang dari manusia-manusia yang masuk ke kolam berebutan heboh minta difoto, dan penjaga kolam itu kemudian melempari kolam dengan roti atau batu agar hiu terpancing datang ke arah lemparan. Aku bahkan melihat sendok nasi plastik mengapung dikolam hiu itu. Menyedihkan sekali.

hiuu

Dalam perjalanan menuju ke tempat yang-katanya-penangkaran itu, mama  sudah bolak balik diperingatkan oleh kru kapal agar berhati-hati kalau ingin masuk ke kolam hiu. Kenapa? Dia bilang beberapa waktu yang lalu ada kejadian pengunjung digigit oleh hiu. Salah siapa? Tentu saja bukan salah si hiu. Bapak itu bilang musibah itu terjadi karena si pengunjung memaksa turun disaat hiu sedang waktunya diberi makan dan, ada juga yang bilang kalau si pengunjung terlalu histeris dan bergerak terlalu heboh didalam air sementara teman-temannya yang menonton melempari hiu dengan makanan di dekat si pengunjung tadi. Akhirnya digigitlah si pengunjung oleh hiu, karena hiu masih merasa lapar. Dan karena hiu itu sebenarnya rabun maka gak bisa membedakan mana yang boleh digigit mana yang nggak. Dia cuma lihat benda bergerak-gerak yang dia pikir mangsanya.

Tentang hiu yang kurang makan juga bisa dibaca di berita ANTARA . Pengelola penangkaran hiu meminta bantuan pemerintah untuk membiayai makan hiu-hiu dipenangkaran karena -katanya- mereka kesulitan mendapat dana untuk menyediakan makan hiu 300 ribu sekali makan. Mereka memberi makan hiu itu seminggu tiga kali. Aku rasa berita itu benar-benar bohong. Bagaimana mungkin mereka bisa kekurangan biaya untuk makan hiu sekitar 900 ribu seminggu, sementara mereka mendapat pemasukan besar? Bersama dengan rombongan mama yang 20 orang kemaren, terdapat rombongan lain dari 2 kapal yang berbeda dengan jumlah rombongan kurang lebih sama. Bisa dihitung pendapatan mereka. Mereka mematok tarif masuk 5 ribu per orang, belum lagi tambahan bila ingin masuk ke kolam 10 ribu/ orang. Ditambah tarif parkir kapal 30 ribu/kapal. Silahkan hitung sendiri. Waktu itu bisa dianggap masa sepi pengunjung. Bagaimana kalau pas lagi puncak liburan? Berapa rupiah yang mereka kumpulkan tapi mereka bilang gak sanggup ngasih makan hiu yang mereka kurung?berenang ama hiuPengunjung berenang bersama hiu (foto dari tante didi)

Ow mereka bilang disana mereka membesarkan hiu kecil yang masih jinak untuk kemudian dilepaskan dilaut setelah mereka besar? Kebohongan apapula? Yang aku tahu, hiu yang ditangkap dan dikurung itu usianya tidak ada yang panjang. Mereka tentu saja gak bisa berkembang biak di luar habitatnya. Apalagi dalam kondisi fully stressed seperti itu.

shark3

Sangat kasihan kan para hiu itu?  Eh tapi di atas aku bilangnya kan dijanjikan akan ke penangkaran hiu dan penyu. Dimana penyu-nya?

penyuIni dia penyu-nya the one and only.. (masih bisa menyebut penangkaran?)

Mamaku pun hampir menangis melihat kondisi penyu yang penuh lumut, sendirian dikolam kecil yang hanya dibatasi kawat. Hanya dibatasi kawat dengan luasnya laut lepas diluar kolam. Tragis sekali.  Di dalam kolam yang juga penuh lumut si penyu yang hampir tidak kelihatan dan gak dipelulikan sama sekali oleh pengunjung yang sibuk berfoto dengan hiu dikolam lain. Entah sudah berapa lama mereka terperangkap disana.

Ini jelas bukan penangkaran. Jelas-jelas gak ada tempat mereka berkembang biak,  dan memang tidak ada upaya pemilik kolam untuk menangkarkan mereka sebagaimana mestinya.  Mereka hanya binatang yang tidak beruntung yang ditangkap manusia serakah dan dikurung didalam kolam bersama hewan-hewan laut lainnya yang juga hasil tangkapan nelayan. Bersama Si penyu malang terdapat ikan pari dan ikan karang dan entah ikan apapula namanya. Masing-masing berenang ke tepi kawat mencari jalan untuk bebas. Sementara diluar kolam mereka banyak ikan-ikan lain bebas berseliweran, pasti penyu dan teman-temannya itu sangat iri. Andaikan mereka bisa berteriak mungkin suara mereka sudah habis untuk minta dibebaskan. Hati mana yang gak teriris melihat ini?

captivasion

Mencoba kabur ke laut lepas 😦Ikan karang

Ikan karang yang beracun ini harusnya tinggal dlaut dalam 😦ikan pariBahkan ikan pari pun gak bisa sembunyi dipasir karena terhalang kawat 😦

Seakan melengkapi penderitaan sore hari itu dikolam hiu, mamapun melihat seekor burung Beo berteriak ngaok-ngaok terikat disebuah papan. Kondisinya sangat mengenaskan. Bulunya sudah tidak cantik lagi. Berulang kali burung itu mencoba menggigiti tali yang mengikat kakinya. Dia ingin membebaskan diri. Burung itu tampak stress dan kurus. Mama gak melihat disekitarnya ada jagung atau pepaya atau biji-bijian dan air yang disediakan buat si Beo. Penyekapan macam apalagi ini? Kenapa manusia begitu egois? Kalau tidak bisa merawat dengan baik, kenapa tidak dilepaskan saja. Biarkan mereka mencari makan sendiri. Toh masih banyak hutan di kepulauan Karimun Jawa. Kenapa harus ditangkap dan dipenjara?

IMG_3866

Beo yang malangIMG_3869

Bulunya sudah rontok dimana-mana 😦

Entahlah sampai kapan manusia-manusia serakah itu memanfaatkan para hiu demi keuntungan perut mereka sendiri. Kenapa tidak membuat atraksi yang lebih menarik dan tidak merugikan makhluk lain.

Sebenarnya sebelum ke Pulau Menjangan Besar ini kami sudah melihat kolam berisi ikan hiu juga di salah satu pulau, kolam ini milik sebuah cottage dipinggir pantai. Meski tak jauh berbeda kondisinya, tapi kolam ini tidak ada pengunjung yang masuk ke dalamnya. Ada  empat atau lima ekor hiu disana, bersama dengan beberapa ikan ukuran besar berenang ke sana kemari. Disini kehidupan mereka paling tidak jauh lebih tenang dibanding teman-temannya di pulau Menjangan Besar meskipun tetap aja jauh dari habitat aslinya.

IMG_3628Hiu yang berenang tanpa terganggu

IMG_3775Cottage yang memiliki kolam hiu

IMG_3620Ikan besar berenang bersama hiu

#JANGAN DITIRU..!

Mungkin dengan niat baik meyenangkan para tamu, bapak-bapak kru kapal dengan sengaja menangkapkan ikan badut serta beberapa ikan lain untuk dimasukkan ke dalam ember. Maksudnya untuk menghibur beberapa orang yang gak sempat ikut snorkeling. Mama sudah meminta ikan-ikan itu dilepaskan sebelum meninggalkan spot snorkeling. Tetapi salah seorang temannya bilang nanti saja kalau sudah sampai ke pulau utama. Dan yang ditakutkanpun terjadi. Beberapa ikan mati 😦 dan mama hanya bisa menatap tajam penuh arti “I’ve told you..” saat temannya bilang ” I’m so sorry”. Ikan-ikan itu gak bisa hidup lagi. Dikembalikan ke laut yang jauh dari rumah mereka dalam kondisi mati. Perlu diingat, meskipun sama-sama laut, tapi laut itu luas mas bro..Gak berarti kalau ikan dilepas dilaut dia bisa langsung kembali ke tempatnya semula. Sama aja kaya kucing yang dibuang ke tempat yang jauh dari rumahnya. Pasti nyasar bingung nyari jalan pulang.

Gak ada yang patut ditiru disini. Tindakan kru kapal itu harusnya bisa dicegah. Bilang gak usah terima kasih kalau mereka bermaksud menangkapkan ikan apapun jenisnya. Bukankah akan lebih indah kalau melihat mereka berenang diantara karang? Lalu kenapa juga hanya ikan Badut atau lebih dikenal  dengan nama ikan Nemo, yang jadi primadona dan selalu dicari-cari disetiap snorkeling? Bukankah ikan lain juga gak kalah menarik? Kalau penangkapan ikan badut terus terjadi, aku akan mulai menyalahkan film Finding Nemo sebagai salah satu sebab kepunahan ikan badut. Okelah kalau keinginan menangkap dan melihat ikan-ikan lebih jelas sudah tak tertahan lagi, silahkan tangkap, foto dan langsung lepaskan. Semudah dan sesederhana itu. Jangan tunggu bermil-mil kapal berlayar baru mereka dilepaskan. Konyol sekali.

clown fishIkan badut (foto dari tante didi juga)

Harusnya semua yang mengunjungi Karimun Jawa atau kemanapun bisa menahan diri untuk tidak berperan pada kerusakan tempat-tempat yang mereka datangi. Jangan mengambil dan merusak hewan dan tanaman yang ada. Cukup difoto dan mereka akan abadi diingatan kita.

papan pengumumanTake nothing but pictures. Leave nothing but footprints

Dan untuk menutup postingan ini, ada seorang nelayan tampak membawa ikan hasil tangkapannya dilaut saat mama dan teman-temannya sarapan pagi sambil menunggu jemputan pulang.

Apa yang dibawa bapak nelayan itu dengan senyum bangga?

fishermanIkan HIUUUUUU….!!! Huwaaaaa…..

Hatiku dan mamapun semakin berdarah, terluka dalam….

Jadi kalau ditanya mau ke Karimun Jawa lagi…? Gak deh..cukup sekali..terima kasih.

Iklan

6 comments

    1. waaah…gak papa kok kalo emang ada niat ke sana. Apalagi udah belajar banyak tentang pelestarian hiu. Jadi bisa diinformasikan ke mereka di karimun jawa kalau yg mereka lakukan itu keliru.

      *mamanya chubie*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s