Penulis: chubiechurubie

Melepas Tukik. Apa yang Perlu Diingat?

Tukik adalah sebutan untuk anak-anak penyu yang baru menetas dari telurnya.

Di Indonesia bisa ditemui 6 jenis penyu dari 7 jenis penyu yang ada di dunia. Keenam jenis penyu itu antara lain Penyu Hijau , Penyu Belimbing, Penyu Lekang, Penyu Sisik, Penyu Tempayan, dan Penyu Pipih. Yang paling besar ukurannya adalah penyu Belimbing dan paling kecil ukurannya adalah penyu Lekang. Semua jenis penyu itu dilindungi oleh pemerintah dengan status terancam punah, bahkan ada statusnya sangat terancam punah.

Masih terlalu banyak oknum-oknum yang menangkap penyu untuk dijual, dan masih banyak juga orang-orang yang mau membelinya. Sayangnya lagi,  hukum belum terlalu efektif untuk melindungi para penyu. Praktek dilapangan masih banyak kelemahan dan celah yang bisa digunakan untuk mengelabui hukum. Uang membuat mata para oknum itu tidak peduli akan nasib makhluk lain dan habitatnya.

Dalam upaya konservasi populasi penyu yang mulai terancam, pemerintah maupun beberapa organisasi, bahkan ada juga yang perorangan, berupaya untuk menyelamatkan penyu-penyu malang ini. Dibuatlah yang namanya penangkaran penyu. Tapi jangan salah, penangkaran semacam inipun kadang ada yang keliru dalam prakteknya. Bahkan disalahgunakan hanya sebagai atraksi untuk menarik minat pengunjung yang penasaran melihat penyu dan tukik. Jadi kita juga harus hati-hati dalam memilih tempat yang kita kunjungi. Jangan sampai niat baik dan kepedulian kita malah jadi bencana juga bagi penyu itu sendiri.

Penyu merupakan spesies hewan yang cukup sulit untuk berkembang biak, usia produktif mereka dimulai sejak umur 30 – 50 tahun. Dalam rentang usia itu mereka akan kembali ke pantai tempat asal mereka ditetaskan setiap 2 sampai 8 tahun sekali. Jumlah telur yang dihasilkan bisa mencapai 120 buah. Telur penyu yang sebesar bola pingpong -tapi kulitnya lunak macam bola penyok- itu akan menetas setelah kurang lebih dua bulan.

DSC00808

 

Tukik-tukik yang baru menetas ini keluar dari pasir bersama saudara-saudaranya sesarang (opo tho..). Mereka keluar dalam kelompok kecil dan secara alami akan menuju ke laut dan memulai perjuangan bertahan hidup, bermigrasi, sampai nanti akan kembali lagi ke pantai tempat asalnya dalam waktu sekitar 20 tahun lebih.

Telur penyu sekali menetas kan banyak jumlahnya, puluhan bahkan ratusan tukik bisa keluar dari sarang. Lalu kenapa kok dikatakan susah untuk berkembang biak? Well, asal tau aja…bertahan hidup itu sungguh berat buat tukik, tanpa ada pelindung. Induknya sudah tak peduli lagi hikss.. tidak seperti mamalia yang diasuh dulu beberapa lama baru disapih. Si Tukik ini harus berjuang sejak dalam bentuk telur. Induknya selesai bertelur ya sudah, gak mikirin lagi, balik ke laut buat kawin berpetualang dilaut lepas.

Banyak predator yang suka sekali memangsa tukik, misalnya anjing, biawak, kucing,  burung-burung laut macam camar, elang , bisa memakan mereka bahkan sebelum para tukik mencapai lautan. Selain itu ada juga kepiting dan ikan besar seperti hiu yang ikut memangsanya.  Belum lagi mesin-mesin kapal, jaring nelayan, dan sampah-sampah dilaut yang berperan dalam kematian tukik (juga penyu-penyu dewasa).Tingkat keberhasilan hidup penyu sangat rendah. Dari 1000 (seribu) ekor tukik, yang akan kembali ke pantai untuk bertelur hanyalah berkisar satu ekor saja. SATU. Sedih banget kan…

DSC01322

 

Balik lagi soal penangkaran. Masih jarang tempat penangkaran penyu di Indonesia. Walaupun ada, terkadang tidak dirawat dengan baik bahkan ada yang hanya dijadikan objek wisata penarik turis dan penghasil uang bagi pengelolanya. Nah ini ada sedikit saran dari Profauna tentang memilih tempat wisata yang berjudul penangkaran :

Jangan mau berkunjung ke tempat wisata yang melakukan pembesaran tukik atau penyu, dan jangan pernah berdonasi pada kegiatan pembesaran tukik yang melanggar dasar-dasar kesejahteraan satwa.

Kita patut mencurigai tempat wisata yang memiliki kolam penyu dimana penyu bisa semaunya dipegang oleh pengunjung, bahkan berfoto dengan penyu. Selengkapnya bisa dibaca tentang temuan Profauna disini ya..

Beberapa penangkaran kadangkala menawarkan program melepas bayi penyu bagi pengunjung. Seperti pada postingan sebelumnya. Tentu tidak bisa sembarangan kita melakukannya. Nah, Bagi teman-teman yang berkesempatan untuk bisa atau ingin ikut melepaskan tukik ke laut, ada beberapa hal penting yang harus diingat.

Apa saja itu?

Jangan pernah memegang tukik. JANGAN PERNAH. Memegang tukik, walaupun ini sangatlah menggoda untuk dilakukan dan instagramable bangeuts untuk diposting, akan mempengaruhi tingkat keselamatan mereka. Tangan kita akan mengganggu proses imprint mereka (yang dulu fans-nya Jake si werewolf  di Twilight pasti tau ya soal imprint begini wkwkwk..). Imprinting proscess pada tukik adalah upaya mereka untuk merekam petunjuk-petunjuk yang diperlukan untuk menemukan jalan pulang mereka untuk kawin dan kembali ke pantai tempat mereka ditetaskan. Singkatnya they imprint on the sand where hatched.

DSC01319

 

Bahan kimia yang ada di sunblock, pelembab, bahkan minyak alami yang ada dikulit kita akan berpengaruh pada tukik. Kalau dipegang bisa-bisa mereka hilang arah tak tau jalan kembali pulang.  Selain itu, karena terlalu gemash, bisa jadi tangan kita memegang mereka terlalu kuat. Sehingga bisa merusak zat kuning telur (yolk) yang merupakan bekal perjalanan alias cadangan energi mereka di hari-hari pertama kehidupannya. Yolk ini berupa titik putih yang ada dibagian perut mereka. Bekal ini cukup untuk kelangsungan hidup mereka selama tiga hari pertama mengambang tanpa makanan dilaut sambil mencari tempat perlindungan yang aman. Tukik belum bisa menyelam lho yaa.. Nah ketika yolk ini habis, baru deh mereka berusaha mencari makan dan mencari perlindungan .

DSC01330

Masalah memegang tukik ini tampaknya masih banyak sekali yang belum dan kurang informasi. Coba deh googling foto melepas tukik. Hampir semua tukik difoto itu sedang dipegang oleh turis. Yang lebih disayangkan lagi, kadang pihak penangkarannya pun juga belum mengerti. Sehingga mereka membiarkan pengunjung mengambil tukik-tukik itu.  Terkadang justru petugas penangkarannya sendiri yang menyuruh pengunjung untuk memegang tukik.

Pelepasan tukik semacam ini bisa lah kita curigai kalau mereka gak memperhatikan keselamatan dan kebaikan si tukik. Cuma mementingkan pengunjung daaan..duit. (iya,  suudzon jadinya diriku wkwkwk..).

Lepaskan mereka mulai dari pasir, jangan langsung ke air laut. Apalagi pakai dilempar. Alamat gak selamat si Tukik kalau dilempar. Ingat, usia mereka baru hitungan jam saja.  Merayap dipasir pantai juga membantu proses imprint mereka.

Jangan melepas tukik saat siang hari. Idealnya pelepasan tukik adalah dimalam atau dini hari saat  masih gelap sekitar jam 19.00 – 05.30 waktu setempat. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari predator yang bisa memangsa tukik dan juga menghindari suhu air laut yang terlalu panas. Waktu pelepasan tukik di Kuta itu benernya masih kurang tepat sih karena dilakukan sore hari…(jujur baru tau ternyata gak semudah itu Lorenzo). Cuman paling nggak  aturan yang lain masih diikuti demi keselamatan para tukik yang mereka tangkarkan.

DSC00801

 

Jangan memotret dengan flash dan hindari cahaya terang. Karena bisa membuat si Tukik  disorientasi, harusnya kepantai eh malah mendekati sumber cahaya, kan repot, buang-buang tenaga mereka aja. Kesian. Penglihatan tukik sangat sensitif . Mereka itu ‘phototactic’ yang artinya sangat tertarik pada cahaya. Tukik memanfaatkan cahaya horizon di laut, cahaya bulan dan juga warna putih dari buih-buih ombak untuk memandu mereka mencapai laut. Sumber cahaya lain yang lebih terang dari itu akan mengecoh mereka menuju ke arah yang salah. Bahkan yang lebih ekstrim lagi, ada yang melarang turis menggunakan pakaian dan sepatu berwarna putih saat melepas tukik dimalam hari, kalaupun ada harus bersedia menjauh ke belakang agar tidak tampak oleh tukik wkwkwk..

DSC00806

 

Tetap ditempat dan jangan bergerak. Petugas penangkaran biasanya memberikan tali penanda atau batas yang melintang dipasir saat melepas tukik. Batas ini semacam runway bagi tukik yang akan merayap menuju laut. Kita tidak diperbolehkan melewati garis itu.  Apalagi sampai mengejar tukik yang baru dilepaskan. Harus tetap berada dibelakang garis. Kalau mau mengambil foto tukik merayap, gunakan lensa tele aja hihihi..  Ini agar tukik tidak mati sia-sia karena gak sengaja terinjak kaki kita. Tukik yang merayap ke laut dan hilang ditelan ombak, kadang terbawa dan terdampar kembali ke pantai, tertutup pasir. Merayap lagi dia ke laut. Bolak-balik seperti itu, ya gimana ya..tukik kan ringan, jadi gampang terombang-ambing. Jadi harus dipastikan tukik bener-bener hilang dilaut baru kita mulai bergerak perlahan.

Melepas tukik secara berkelompok. Semakin banyak jumlah tukik yang dilepaskan dalam setiap pelepasan tukik, kesempatan untuk selamat sampai ke laut akan lebih baik. Walau tetap harus diingat bahwa kesempatan mereka menjadi dewasa dan kembali ke pantai tempatnya menetas itu sulit. Perbandingannya 1 : 1000.

DSC01316

 

Yak..demikianlah kira-kira yang perlu kita perhatikan saat ikut atau berkunjung ke penangkaran tukik. Aku berharap sih kita bisa sama-sama belajar untuk jadi wisatawan yang baik. Ini sebenarnya juga berlaku buat para tour guide /leader yang membawa para turis. Janganlah semata-mata hanya untuk menyenangkan dan memuaskan hati klien tapi mengorbankan apa yang seharusnya dilindungi juga oleh mereka.

Masalahnya kadang rasa ‘tidak enak hati’ itu masih kuat melekat di budaya kita. Jadi akhirnya membiarkan apa yang salah, bahkan membantu melakukan kesalahan itu sendiri. Beranilah melarang sesuatu yang memang terlarang !

DSC01338

 

Oya, beberapa foto yang ada orangnya diatas memang aku saksikan sendiri yaaa..Terus terang sebel sama salah satu tour leader rombongan lain yang memperlakukan tukik sedemikian rupa. Bahkan sampai bilang ” Ini anak penyu kalo dipegang dan dibalik dia bakal tidur loh” , (tidur kepala lu peyang!).

Kenapa gak ditegur sendiri? Sudah. Sudah ditegur, dan dijelaskan. Bahkan Naka-Nara juga jadi ‘alat’ buat negur mereka. Naka-Nara yang  memaksa ingin ikut megang tukik akhirnya dapat ceramah dari Bundanya (trus sengaja suara dinyaringkan biar mbak-mbak cantik dan tour leadernya denger) soal gak boleh pegang tukik. Tapi ya tetep aja sih dipegang, dielus-elus, difoto berbagai pose, bahkan ada yang disuruh merayap ke pasir trus difoto dan dibalikin lagi. TERLALU.

Jadi dengan menulis disini salah satunya untuk menebus rasa bersalahku gara-gara gagal mengingatkan rombongan sebelah waktu di penangkaran penyu Pulau Sangalaki. Eh, dimana itu pulau Sangalaki?? Nanti yaaa…ceritanya akan berlanjut panjang. Hihihihi…

 

 

Iklan

Stay Safe Baby Turtle….Hati-hati ya..!

Holaaa…lama tak berjumpa. Lamaaa sekali Masya Allah.. Setahun lebih wkwkwkwk… Tapi kalo liat traffic blog ternyata masih adaaa aja yang buka dan baca blog ini walau cuma satu dua pengunjung dalam sehari, atau jangan-jangan itu nyasar doank hahaha.. Gak papa, tetep Alhamdulillah.

Ya tapi kalo emang beneran sengaja baca blog ini bisa lah dianggap postingan sekarang untuk kalian (duileeh ge er to the max).

Sekarang mau cerita soal bayi penyu aka TUKIK. Bosen kan ya kalo cerita kucing melulu.

Sedikit bernostalgia boleh ya, anggap aja pemanasan dah, melenturkan jari lagi.  Duluuuu waktu SMP kelas 1 , kalau pulang sekolah jalan kaki menuju pangkalan ojek. Lokasi SMP ku itu terletak di Pecinan, semacam kampung orang Tionghoa. Tahun berapa ituuuu?? Gak usahlah ya dikasih tau biar tante gak ketahuan umurnya. Kayaknya waktu itu Pak Tri wakil presidennya (laaah..dikasih clue hahaha..).  Nah, sepanjang jalan menuju pangkalan ojek banyak toko yang menjual berbagai produk hewan eksotis, semacam ular, trenggiling,  biawak dan penyu. Toko-toko itu memajang hewan-hewan yang sudah dikeringkan, dan beberapa yang disimpan didalam tabung besar, diawetkan (atau entah apalah) dengan cairan didalam tabung seperti yang kita lihat di laboratorium anatomi dan museum. Paling banyak sih penyu (juga bulus )yang digantung di dinding. Sering kali sisi jalan dipakai buat menjemur cangkang dan daging mereka. Baunya jangan ditanya…amis banget. Tahun-tahun itu sepertinya masih bebas memperjualbelikan produk dari penyu. Tidak ada larangan sama sekali. Wong di pasar aja telur penyu banyak sekali dijual macam telur ayam oleh penjual kaki lima. Disusun tinggi seperti piramida. Bentuknya macam bola pingpong yang lunak. Satu hal yang aku syukuri sampai sekarang adalah dulu gak pernah mau disuruh icip telur penyu itu. Itu di Banjarmasin, belum lagi di Samarinda dan kota-kota lain di Kalimantan yang (ternyata) menjadi salah satu tempat perdagangan penyu terbesar di Indonesia.

Menurut Sahabat Penyu , perairan Indonesia ini memang termasuk rute migrasi atau perpindahan para penyu laut yang terpenting di persimpangan Samudera Pasifik dan Hindia. Oleh karena itu pantai-pantai di Indonesia merupakan tempat penyu laut tersebut singgah untuk bertelur. Misalnya di daerah Abun, Papua, yang menjadi tempat peneluran terbesar se-Asia Pasifik bagi penyu Belimbing. Juga Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur, yang menjadi tempat peneluran terbesar di Asia Tenggara bagi Penyu Hijau. Belum lagi pulau Bali dan lainnya.

peta_konservasi_penyu

*Sumber : peta konservasi penyu

Perdagangan penyu dalam berbagai macam bentuknya sejak jaman dulu kala itulah yang mengakibatkan populasi penyu di dunia terancam. Apalagi di negara kita yang hukum soal perdagangan hewan-hewan macam ini belum sepenuhnya ditegakkan dengan baik oleh yang berwenang. Gak banyak kita dengar para penyeludup penyu-penyu itu yang dihukum berat. Akhirnya semakin ngenes-lah nasib para penyu di laut kita. Lagian semakin dilarang kayaknya para pemburu penyu itu semakin merasa ditantang dan harga jual penyu semakin tinggi, penangkapan penyu semakin masif walau sembunyi-sembunyi. Macam lingkaran syaiton gitu deh…

Padahal penyu-penyu itu sulit sekali bereproduksi. Mereka akan mulai bereproduksi setelah mencapai usia sekitar 30 tahunan. Gak ada itu ceritanya pernikahan dini macam kucing yang enam bulan sudah dihamili kucing garong tetangga lalu beranak lima.  Penyu-penyu betina dewasa akan  bertelur di pantai, menggali lubang dipasir dan menempatkan telur di dalamnya, lalu mengubur telur-telur itu dan kembali lagi ke laut.

Tinggallah telur-telur itu sendirian.

Kadang bisa selamat sampai menetas, kadang digali oleh hewan-hewan pemangsa macam biawak, anjing dan lainnya. Yang paling bahaya sih ya diambil manusia buat dijual.

Anak penyu yang baru menetas nan unyu-unyu itu disebut dengan nama TUKIK.

Saat ini, sudah ada beberapa tempat yang berusaha membantu konservasi penyu laut. Entah itu sebagai organisasi swasta maupun dibawah BKDSA setempat. Tujuannya satu, menyelamatkan populasi penyu dan melindungi habitatnya. Kegiatan mereka salah satunya adalah mengumpulkan telur-telur penyu dan dibawa ke tempat yang lebih aman untuk menetas. Ini dilakukan untuk menghindari predator dan pencurian telur apabila telur dibiarkan tetap di pantai tempat induk penyu meninggalkannya setelah bertelur. Mereka menyebutnya tempat penangkaran penyu.

Masih jarang informasi soal tempat penangkaran Si Tukik unyu ini yang mudah dijangkau oleh kita. Apalagi sampai ikut melepaskan tukik ke laut.  Nah kebetulan,  September tahun lalu kami sekeluarga sempat ikut serta dalam pelepasan tukik di Pantai Kuta. Jadi kalau berkesempatan pergi ke Bali gak ada salahnya ikut berpartisipasi dalam program ini.

Jauh hari sebelum berlibur (sekalian nemenin Bunda seminar sih benernya), seperti biasa sebagai emak rempong, aku googling dulu aktifitas yang cucok buat keluarga di sekitaran Kuta, terutama keluarga dengan dua anak balita. Gak mungkin donk kami ajak anak main Banana Boat atau olahraga air yang heboh gitu ya kan? Salah satu pilihan yang ada kata mbah Google adalah melihat penangkaran penyu  dan melepaskan anak penyu. Waah..ini pasti seru. Apalagi namanya anak-anak pasti tertarik banget ama semua yang berhubungan dengan hewan. So, masuklah melihat dan melepas tukik jadi salah satu list di itinerary.

Adalah mereka, Bali Sea Turtle Society (BSTS), sebuah organisasi nirlaba yang bertujuan untuk melindungi dan menyelamatkan  penyu yang ada di Bali. Mereka bekerja dengan melibatkan masyarakat agar lebih peduli akan kelestarian hidup penyu di laut. Anggota BSTS ini setiap malam menyusuri sepanjang pantai Kuta untuk melihat apakah ada penyu yang datang untuk bertelur. Bila tampak tanda-tanda kedatangan penyu, pantai akan disterilkan dari pengunjung dalam radius tertentu agar tidak mengganggu tamu istimewa itu. Setelah si Penyu selesai bertelur dan kembali ke laut, relawan itu akan mengamankan telurnya dan memindahkannya ke tempat  penetasan telur atau kotak pasir khusus yang ada di depan kantor BSTS. Disana, telur-telur itu akan dikubur kembali dan ditandai jumlah, tempat, serta tanggal  ditemukannya telur untuk memperkirakan kapan mereka akan menetas. Setelah menetas, segera mereka akan dikumpulkan dan dilepaskan kembali ke laut. Pelepasan tukik inilah yang menjadi kegiatan yang sangat diminati turis-turis di Kuta.

Masalahnyaaa…ternyata gak setiap hari loh ada acara pelepasan tukik itu. Semua tergantung ada nggak-nya tukik yang menetas dipenangkaran. Jadi semacam untung-untungan, dan harus rajin nge-cek update-an BSTS di akun facebook mereka selama disana. Mereka akan menginformasikan bila ada pelepasan tukik beberapa hari (bahkan jam) sebelumnya. Berhubung ngejadwalkan ke BTS di hari-hari terakhir, jadi aku berdoa yang banyak biar bisa kesampaian ngajak anak melihat tukik dan melepaskan mereka ke laut.

Doa bunda (yang ngaku-nya) sholehah ternyata diijabah Allah hihihi…Allahu Akbar.

Waktu itu benernya udah cape banget dalam perjalanan pulang dari Bali Safari & Marine Park di daerah Gianyar. Udah dari pagi kita mencungul disana, masih sepiii loket pun masih bebenah baru buka…demi ngejar sarapan bareng singa di Tsavo Lion Resto yang cuma bisa ampe jam 10 pagi. Ini sekalian dalam rangka hari ulang tahun Nara yang ketiga (dan ultah Bunda yang ke-ahsudahlah, kebetulan tanggalnya sama) #uhuk . Pulang menjelang sore.

Nah, dalam perjalanan pulang, ketika anak-anak udah KO di mobil, dengan harapan yang sudah tipis karena itu adalah hari terakhir di Bali dan besok sudah pulang, Aku buka lagi facebooknya Si Bali Sea Turtle. Daan..disana ada woro-woro kalau mereka mau mengadakan pelepasan tukik sore itu juga. Alhamdulillah Ya Allah…senengnya bukan main. Gimana gak seneng wong sehari sebelumnya belum ada pemberitahuan bakal ada tukik yang mau dilepasin. Bener-bener kayak berkah dihari ultah. Jadi pak driver langsung diminta ke pantai Kuta, gak jadi balik ke hotel.

Dimana letaknya Bali Sea Turtle Society (BSTS) ? Dekat ama Hard Rock Cafe Kuta. Bukan iklan wkwkwk..Patokannya itu aja biar gampang. Di depan cafe itu kan ada gapura kecil buat masuk ke pantai, masuk belok kiri deh..sekitar 5 menit jalan kaki  pasti sudah nemu patung penyu gede di depan bangunan. Kalau gak salah ingat bersebelahan ama kantor Basarnas (?) -maklum udah berbulan-bulan ini jadi lupa- soalnya Nara numpang pipis disitu (jangan tanya kondisi wc-nya..Iyuh banget, darurat kakaaak) hahahaha..tapi namanya anak kecil ya, adaa aja..20180917_160603

Waktu kami sampai disana, sudah banyak orang antri mau minta token, semacam karcis buat ditukarkan ama tukik yang akan dilepas. Token ini gratis..tiss. Cuma kalo mau berdonasi akan dapat bonus satu stiker kecil bulat dari BSTS. Kalau gak mau donasi ya gak masalah kok. Kebetulan sore itu masih agak panas, sekitar jam 4 sore lebih. Petugas BSTS memutuskan menunda pelepasan sambil menunggu matahari tidak terlalu terik dan suhu air laut lebih dingin, juga sambil menunggu orang-orang datang berkumpul, karena tukik yang dilepaskan hari itu cukup banyak.

20180917_152752

Cuman entah kenapa, kurang info atau gimana, yang banyak tertarik ngumpul itu justru turis asing loh. Wisatawan domestik cuma ada beberapa orang bisa dihitung jari. Padahal ini kan penyu kita yaaa..(sok ngaku-ngaku).

20180917_152553

Sambil menunggu, Naka Nara makan ice cream, lalu melihat-lihat banyak ‘sarang telur’ penyu yang dikumpulkan BSTS. Ada juga tukik yang baru keluar dari sarangnya berjalan-jalan di atas pasir.

20180917_153640

 

20180917_153317

 

20180917_152858

Setelah sekitar sejam lebih menunggu, sirine dari toa (megaphone) petugas berbunyi nyaring. Meminta kami kembali berkumpul setelah tadi dibubarkan untuk sementara hahahaha…Lalu diberi penjelasan singkat mengenai penyu laut. Siklus hidup mereka, upaya-upaya penyelamatan, apa yang boleh/tidak boleh dilakukan saat melepas penyu, dan sebagainya. Setelah dianggap mengerti, kami antri untuk mengambil wadah plastik khusus yang sudah disediakan (dan harus dikembalikan setelah selesai). Wadah plastik itu akan diisi dengan seekor tukik oleh relawan BSTS. Harus sangat hati-hati, karena tukik tidak boleh dipegang, tapi disisi lain tukiknya aktif banget berenang dan selalu mau keluar dari wadah, oh ribetnya…

20180917_162927

Kami kemudian disuruh  berbaris lalu berjalan pelan menyisir pantai menuju tempat pelepasan yang sudah disterilkan oleh petugas BSTS. Lumayan jauh jalannya. Naka Nara juga masing-masing membawa satu wadah tukik. Walau akhirnya wadah Nara dibawain Abi karena kuatir tukiknya jatuh pas kami berjalan dipasir.

20180917_162124 20180917_16223328229

Sebelum tukik dilepaskan, kami berbaris berbanjar…dari ujung ke ujung, ternyata banyak sekali yang melepas tukik hari itu. Dibelakang kami ada bule entah dari mana sibuuuk aja motoin tukik Naka Nara, ikut heboh dia tanya ini itu. Gitu kok ya gak minta tukik sendiri tho mbakyu? Laluu…kami disuruh berjongkok dipasir, setelah dihitung satu dua tigaa..akhirnya wadah dimiringkan ke arah laut, dan tukik berlari eh merayap cepat keluar, berlomba menuju laut dan langsung disambut ama ombak dan ditarik ke laut. Suasana jadi riuh dengan dadah-dadahan, banyak seruan-seruan agar tukik bisa selamat, cepat kembali ke laut, hati-hati agar gak dimakan predator, juga doa biar bisa kembali lagi ke pantai buat bertelur.20180917_162458

Tukik -yang gak ngerti teriakan manusia itu- ada yang langsung hilang mengikuti ombak, ada yang tersapu kembali ke tepi pantai, dan ada juga satu dua yang nyasar atau cuma diam terhalang gundukan pasir yang tinggi. Karena itu, kita gak diperbolehkan bergerak  sesaat setelah melepas tukik sampai benar-benar yakin tukik sudah masuk ke laut, khawatir tukik yang hanyut balik ke pantai bisa terinjak tanpa sengaja.

Nah, setelah sudah tidak ada tukik lagi terlihat di pantai, bubar deh ….hari sudah menjelang malam. Wishlist di hari ulang tahun pun bisa dicentang hijau..”TING” kata kakak Naka..hohohoho..

20180917_164040

Hari yang melelahkan tapi seru. Kamipun kembali ke hotel.

Oya, ada beberapa hal terkait tukik dan pelepasan tukik ini yang perlu diketahui. Aku kasih tau dipostingan selanjutnya ajah, yang ini sudah terlalu panjang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Yang Kuat dan Menguatkan…

Mungkin hanya kita-kita yang tahu sedihnya, saat membaca status, saat menerima pesan wa yang berisi berita kepergian satu jiwa kecil ke langit. Disaat orang lain berpikir, ah itu kan biasa, kucing doank, anjing doank, ngapain ditangisi? Tapi bagi kita yang juga pernah dalam posisi kehilangan itu, rasanya, separuh hati ikut terbawa pergi.

Belum lama ini aku ditinggal pergi dua saudara, Kira dan Luna, karena sakit yang berbeda, cerita yang berbeda. Masing-masing masih menyisakan batu dalam dada. Sayangnya belum sempat menceritakan mereka disini.

Dan kemarin, pagi-pagi terbaca berita, seekor anak kesayangan sahabat, Naga chan, Si kucing kuning ganteng bersurai seperti singa, yang selalu ngaku jadi Lurah Cikoneng , pergi ke langit.

Ah, ingatan langsung terbang ke beberapa tahun yang lalu, saat semua masih dalam kondisi sehat, masih ramai, masih lengkap anak2 berbulu itu menceriakan hari-hari kita. Masa awal-awal facebook mulai dipenuhi akun-akun kucing. Naga, juga Pacoh, Kincess, Belangi, dan beberapa lainnya semua berteman akrab ama Chubie. Karena mereka semua, kami  para manusianya bertemu di dunia maya, sebagian bahkan akhirnya menjalin persaudaraan di dunia nyata, saling menguatkan, saling membantu dan menghibur. Karena jiwa-jiwa kecil berbulu itu.

Kepergian Naga chan…rasanya bagai memutus satu lagi simpul yang menghubungkan kenanganku ke masa-masa indah itu. Setelah Chubie pergi, suasana perkucingan di fb buatku terasa lain. Kemudian Pacoh ikut pergi…generasi lama itu satu-satu berganti. Hanya tertinggal Kincess (sehat terus ya cess..) yang sekarangpun udah mulai digantikan anggota barunya. Walau banyak akun-akun kucing baru, tapi entah kenapa kadang gak seheboh dulu.

FB_IMG_1511162155213

Hai Naga..anak ganteng cintanya Eboo Dhenok. Aki-aki bersurai yang paw-nya kayak cakue empuk.  Om dari sekian banyak ponakan. Kucing yang paling sabar, paling banyak nerima ponakan baru yang terpaksa direscue Eboo. Naga Chan yang paling kuat, yang paling milih-milih makannya, entah apa yang bikin kamu bertahan sekian lama dari sakit, bisa jadi karena cinta eboo teramat besar, bisa jadi karena kamu emang gak mau ninggalin eboo karena takut dia kesepian. Sekarang udah gak sakit lagi ya sayang…udah ketemu ama semua, sama Mimi, sama Sachou..sama teman-teman lainnya. Tenang disana ya nak..Terima kasih sudah memberikan keceriaan pada kami, dan menguatkan Eboo-mu selama ini.

Bye Naga..banyak cinta yang mengiringi larimu ke langit.

*peluk Mbak Dhenok

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dadah Cerewet….

Si Cerewet beneran udah pergi ke langit.

Beberapa hari sebelumnya dia sering muncul minta makan, trus leyeh2 seperti biasa. Foto terakhir dia yang kuambil itu tanggal 3 Februari 2017. Sempat main sama Naka yang pengen ikut Bundanya kerja. Hari Senin tanggal 6 Februari, dia juga ada, bahkan sempat berkelahi dengan Si Kakek. Kakek sampai kotor minta ampun gara-gara jatuh terpojok ke got. Si Cerewet gak luka sama sekali, jumawa banget dia nglendotan dikakiku bermanja minta elus. Gak nyangka kalo itu kali terakhir liat dia.

cymera_20170217_110739

 

cymera_20170217_110354

 

Selasa gak ketemu, dia gak datang.

Rabu siang…

Pas lagi odontektomi pasien, driver ambulan datang minta masker, katanya ada kucing mati di got sudah bengkak T_T . Kaget, aku tanya siapa? Dia gak jawab, tapi bilang kayaknya Si Putih teman Emak. Karena gak memungkinkan ninggalin pasien, aku minta tolong Bu kam yang ngecek. Bu Kam bilang udah gak bisa ngenalin karena kondisinya udah gak jelas bentuknya, gak berani deket2 juga. Tapi sepintas memang seperti Si Cerewet. Hhhhh……Innalillahi wa inna illaihi rojiuun. Bye anak ganteng..

Dia dimakamkan didepan klinik. Dibawah pohon ketapang yang rindang.

Yang masih bikin penasaran adalah kenapa kok sampai mati? Apa ada yang menyakiti? Tertabrak? Atau apa? Karena terakhir ketemu anaknya masih sehat bugar dan makan banyak. Buktinya menang pas berkelahi. Kalau kondisinya sakit parah seperti dulu ya wajar..tapi ini sehat kok. Apa dia diserang anjing liar? Kenapa juga kok baru hari Selasa ketahuan ada kucing di got yang notabene sering dilewati buat parkir perawat? Masa gak ada yang nyadar ya…Ah, nyesek rasanya. Teringat malam Selasa itu hujan lebat banget. Semoga Si Cerewet pergi tanpa menderita yang lama.  Mungkin dia memaksa pulang ke klinik biar ada yang kubur jasadnya. Apa jadinya kalo dia terluka trus memutuskan sembunyi aja dihutan..

Saking gak percayanya kalo mayat kucing itu adalah Si Cerewet, berharap kalo itu cuma kucing liar lain yang cuma kebetulan mati disini, aku sampai minta tolong teman yang bisa nge-link ke hewan (fyi, namanya bodytalk). Dia bilang kemungkinan besar itu emang Si Cerewet. Aku minta tanyain kenapa dia matinya? Dijawablah gak etis tanya begituan..iya juga sih..itu hak prerogatifnya yang Punya semua makhluk.

“Hai Cerewet, katanya kamu tau ya kalau kamu disayang. Iya kami sayang..kami kangen kalo kamu gak datang, nyariin suara ngaong-ngaong kamu yang membahana dari kejauhan. Baik-baik disana ya..Kalau ketemu kucing putih abu-abu berponi rada jutek, itu namanya Chubie, kalian harus berteman baik. Bilang ke dia kalo kamu juga dulu sempat tinggal lama diklinik bercat putih yang banyak pohonnya. Tapi jangan bilang kalo kamu TTM  Emak, kuatirnya ntar kamu ditampaw . Sampaikan ke dia kalo kami juga selalu kangen, dan Bu Cs masih sering keceplosan nyebut namanya. Bahagia disana ya Cerewet kesayangan…Dadah..”

Kata Bu Kam..yang penting kita gak nyakitin dia dok, udah dirawat kok…Yah, ini salah satu penghiburan dihati. Tapi andaikan memang ada yang jahatin dia , semoga Allah SWT saja yang melembutkan dan membalikkan hati orang-orang itu biar nanti bisa menyayangi binatang. Setiap tindakan jahat akan ada balasannya. Aamiin..

CYMERA_20160401_142208

 

Rest In Peace kucing putih kuning ganteng kesayangan…

Emak yang sudah Move On

Hai..ini sebenarnya draft yang sudah lamaaa banget tersimpan diblog gak diupload. Jadi ada beberapa hal yang sudah berubah. Cuma berhubung sayang kalau dibuang karena cukup panjang, jadilah laporan tentang Emak ini aku bagi dalam tiga bagian. Bagian pertama itu kutulis tahun lalu, bagian kedua, tentang perubahan dari bagian pertama, sementara bagian ketiga adalah kondisi terkini Emak sekarang. Jadi selamat bernostalgia dan kangen-kangenan ama Emak yaaa…Dan please doakan aku bisa kembali rajin nulis lagi wkwkwkwk…

(tertanda : Mamanya Chubie)

Bagian 1.

Apa kabar si Emak setelah bertahun-tahun ditinggal Chubie pergi? Alhamdulillah she’s doing well…Sempat bikin kuatir karena sakit menjelang lebaran tahun 2016 lalu. Lemes gak mau makan, agak demam, tiduran melulu, badannya jadi kurus. Sempat bolak balik dibawa pulang ke rumah biar bisa dirawat lebih intensif , karena repot banget musti bolak balik ke klinik buat nyuapin makan/minum emak, (balada ibu2 beranak dua). Jadi Emak pagi dibawa kerja, sore ikut pulang. Kebetulan lebaran tahun ini kami sekeluarga mudik ke Surabaya. Jadi bener-bener kuatir dengan kondisi Emak, takuut banget gak bakal ketemu lagi setelah pulang mudik.  Emak dititipkan ama Ibu Kam aka Bu Cs (asisten di klinik yg juga bantu merawat kucing2), kalo ada Bu Kam,  hati jadi tenang karena mereka bakal dijagain dan akan kasih kabar kalau ada apa2 selama ditinggal mudik seminggu lebih.

CYMERA_20170202_134228.jpg

Hai Emak, jumpa lagi kita!

Alhamdulillah…Waktu kembali kerja, Emak masih ada dan membaik walaupun belum terlalu sehat. Kata Bu Kam sih dia udah takut juga kalau Emak mati pas aku gak ada. Perlahan tapi pasti Emak sehat lagi. Selera makannya kembali seperti semula. Sampai sekarang. Bahkan kapan hari sempat rebutan anak burung yang baru belajar terbang. Jengkel banget kayaknya Emak melihat tangkapannya kuselamatkan.

Emak sudah sempat punya pacar baru. Namanyaaaaa…eerrr..Gak punya nama 😀 Cuma sering dipanggi si Cerewet sih. Asli cerewet banget. Dari jauh udah kedengeran suaranya ngaong ngaong. Apalagi pas pengen kawin. Hadoooh…ruuameee..Datang cuma buat makan trus pergi. Kalau situasi aman ya leyeh-leyeh nyantai macam dipantai ama Emak. Seekor tabby putih kuning  buntut pendek, mukanya tembem bulat.

cymera_20170203_140543

Sebelum Si putih Cerewet ini sih ada si Hitam yaa..mungkin masih ingat beberapa fotonya ama Chubie dulu. Cuman beberapa bulan sejak Chubie RIP, si Hitam juga gak tampak diklinik, gak pernah datang lagi sampai sekarang. Semoga dia sehat2 saja diluar sana. Emak cukup lama sendirian, beberapa kucing besar kecil juga datang dan pergi gak pernah tinggal lama diklinik. Hanya hitungan hari trus mereka mengembara lagi. Barulah muncul Si Cerewet.

Si Cerewet benernya kucing liar disekitar rumah salah satu perawat yang diungsikan kesini, karena katanya ditempat yang dulu sering berkelahi dan ditimpukin batu ama anak-anak (Coba mana bawa sini anak2nya??! Belum tau rasanya ditimpuk tang?!).  Tapi tu perawat rada2 gak bisa dipercaya juga sih..buktinya Emak ama mendiang Chubie dulu ketakutan kalo liat dia. Baru denger suaranya aja udah lari kabur loh, belum keliatan batang hidungnya. walaupun lagi asik makan trus mereka denger siulan tu perawat dari jauh, kucing-kucing bakal kabur ninggalin makanan mereka. Auranya jelek banget. Ups! Jadi ngomongin orang. Ndak boleh ya mbak’ee..

Dulu Si Garong cerewet gak bisa didekati apalagi dipegang. Sekarang? Manja banget. Tidur sesuka hati gegoleran dimana-mana. Kalau kita lewat dia paling berguling trus menyapa ” Nggaaooo” trus lanjut tidur macam bos besar. Pacarnya Emak ini juga setia banget, waktu Emak sakit dia nungguiiiin terus disamping  kandang Emak kalau lagi diklinik. Sempat ikut2an gak nafsu makan pula (well, ini bikin parno sebenarnya, kuatir ada virus ganggu dua anak ini makanya sakit kok hampir barengan).

cymera_20170202_134012

Pacaran malu-malu kucing

Bagian 2.

Emak semakin semok dan manja, pacarnya ganti lagi.

Berita sedihnya, Si Cerewet udah jaraaang datang lagi. Sempat sakit juga, tapi setelah dirawat, dia sembuh dan mulai makan banyak lagi. Nah pas dia sakit itu ada anak baru yang datang. Kayaknya sih lagi-lagi hasil buangan orang. wong jinak dan bersih kok, masih muda, sekitar setahunan mungkin ya (gak punya KTPK kartu tanda pengenal kucing ;p). Si Cerewet seringkali mengamati si anak muda itu dari jauh. Apa jangan-jangan dia merasa kalah saing dan kalah ganteng ama yang muda jadi gak mau balik menemani Emak lagi?  Semoga dia baik-baik aja diluar sana. Kangen juga. Kangen banget. Kalo ada yang mengeong kenceng pasti rasanya bahagia. Woooh..si garong minta makan! Tapi ya itu, sekarang hampir gak pernah datang. Ah jadi sedih…

Hampir sebulan terakhir Emak berdua aja ama brondong, namanya si Kutuk. Ini yang ngasih nama Bu Kam, karena dia kuthuk banget (bahasa jawa : jinak/manut), selalu ngintilin kemana pun Bu kam pergi. Emak dalam love hate relationship sih ama Si Kuthuk ini, kalo deket di hissing, tapi kalo jauh pandang2an. Kadang makan sama-sama, dilain waktu Emak nabok brondong. Sampai disuatu pagi, ada bapak-bapak penjaga mess tamu kantor yang ngerumpi didapur klinik. Ujug2 bilang mau minta kucing karena di mess sepi gak ada yang dipiara. Eh, Si Kuthuk lewat. Ya udah,  terjadilah serah terima brondong ke pemilik barunya. Langsung dibawa boncengan naik motor ke mess.

Setelah mereka pergi aku ama Bu Kam sempat rasan-rasan sih, itu paling Si Kuthuk gak lama bakal balik klinik lagi. Toh gak jauh jarak mess ama klinik. Gak sampai 10 menit naik motor. Kenyataannya sampai hari ini Si Kuthuk tak terlihat. Syukurlah kalo dia betah disana ya.

cymera_20170202_134509

Ini si Kuthuk

Bagian 3.

Yang namanya kucing garong itu macam hilang satu tumbuh seribu (eh jangan juga sih..ngeri ini kalo urusannya ama kucing. Kebayang diserbu seribu kucing hiiiyyy..). Pergi satu muncullah dua garong. Yang satu tabby macarel berbuntut minimalis bersuara gagah membahana, yang satu kuning dilute polos berbuntut panjang bersuara kitten. Si Macarel kayaknya datang dari arah kebun dibelakang klinik. Iya, hutan dibelakang klinik sejak musim kemarau panjang tahun lalu sudah berubah jadi kebun sekarang. Panjang dan sedihlah kalo diceritain. Sedangkan Si Kuning puyeh kemungkinan datang dari perumahan. Yang satu masih muda gagah dan liar, yang satu jinak udah tampak tua, gigi ompong dan sepertinya udah ada gangguan kesehatan.

Si Macarel cuma datang buat minta makan, sedangkan Si kakek ini udah betah nimbrung kemana-mana. Bahkan kalo ada pasien diruang tunggu dia ikut nungguin entah apa yang ditunggu.

cymera_20170203_112523

Emak gak suka sama Si Macarel, tapi ama Kakek dia segan. Gak pernah hissing, gak pernah nunjukin kalau dia gak suka. Makan aja gak pernah direbut ama Emak. Emak emang suka ngalah sih, sejak jaman NChub dulu kan ya…

cymera_20170202_120900

Mengambil alih pangkuan milik Chubie :p

Emak ini pasti sudah terbiasa  dengan generasi kucing yang terus berganti diklinik ini hehehe…tapi emang begitu, karena gak bisa juga sih miara banyak kucing disini. Emak doank yang resmi tercatat sebagai residen, ama si Cerewet. Selebihnya ya silahkan datang dan pergi.