Berlarilah duluan Chub…

Harus mulai dari mana ini…?

Baiklah, tarik nafas sebentar..

Sebenarnya gak pengen secepat ini menulis tentang dia, tapi rasanya entah kenapa ada rasa punya hutang buat teman-teman yang menyayanginya. Yang ingin tau bagaimana kondisi dan bagaimana dia pergi. Selain itu juga, tulisan ini salah satu cara untuk benar-benar melepasnya, mengikhlaskannya. Iringi dia dengan senyuman…ah, gak bisa..sekarang aja hidungku sudah memerah. Walau sudah aktif lagi di dunia maya, ketawa, bercanda..tapi ini belum selesai nulis satu paragraf aja udah meleleh semua. Rasanya seperti putus cinta yang bertahun-tahun terjalin. Hampa…ya, setiap bangun pagi akhir2 ini rasanya berbeda. Katanya,waktu akan menyembuhkan semua bekas cakaran dan gigitan. Dan hatiku tercakar sedemikian panjang, sedemikian dalam, serta tergigit sampai berlubang…Kapan sembuhnya kira-kira?chubierip

Masih teringat waktu pertama bertemu, aku sendiri kemaren lupa kapan tepatnya. Sampai ada seorang sahabat yang men-tag ulang postinganku tentang foto pertama saat dia diberi nama. Dari situ aku cari status pertemuan dengannya. Ternyata kami bertemu dibulan Agustus hahaha..Harusnya itu jadi bulan ulang tahunnya dong ya? Ulang tahun adopsi. Padahal dulu kalau ada teman-temannya yang ulang tahun, dengan bangganya dia sering bilang kalo dia akan muda terus karena gak pernah ulang tahun. Gak pernah ingat kapan dia resmi diadopsi. Gara-gara mama-nya yang lelet ngubek-ngubek foto dan status terdahulu di facebook. Ah, buat apa? Kupikir selamanya dia bersamaku. Makasih banyak buat mbak Aita dan Mbak CiKey yang udah ngasih nama ke dia. Fans pertamanya.

status fbCapture1

Jadi ingat ditahun itu, dia ku tinggal lama untuk beribadah. Semua kucing dititipkan pada Bu Cs untuk rutin disambangi dan diberi makan. Gak yakin juga mereka bakal masih ada di tempat sewaktu aku pulang. Tapi mereka ada. Lengkap. Termasuk kucing kecil berponi abu-abu. Sempat kabur berkali-kali karena kalah berkelahi dan menghilang selama hampir 3 bulan. Kemudian dipertemukan kembali. Setelah itu berkali-kali kutitipkan lagi ke Bu Cs. Tahun demi tahun berlalu. Menikah, liburan, seminar dan terakhir cuti melahirkan. Dia selalu setia dan sabar menungguku, menjadi anak titipan diklinik. Oya, Bu Cs ini aslinya bernama Bu Kamsini. Beliau yang tiap pagi ke pasar untuk membeli ikan buat Chubie dan teman-teman, Si Emak dan Hitam.chubiecs

Tak aku sangka tahun ini adalah tahun terakhir bersamanya. Bahkan baru dijalani separuhnya.

Sejak aku cuti sampai bulan April kemaren, Chubie memang sudah mulai mengurus. Kesehatannya mulai menurun. Tidak segemuk sebelumnya. Tapi masih makan dengan lahap. Masih suka ngerebut makanan Emak, masih selalu menampar Hitam kalo makanan mulai dibagi.chubierip1

Suatu hari Bu Cs bilang Chubie tadi pagi makannya malas-malasan. Biasanya paling suka kepala ikan. Sekarang diliatin, dijilat aja. Kalau sudah begitu biasanya ikan akan direbus dulu ama Bu Cs. Gak dikasih mentah seperti biasa. Entah kenapa rasanya sudah ada firasat gak enak. Nafsu makan Chubie memang naik turun sekarang. Obat cacing rutin, vitamin penambah nafsu makan juga diberikan. Tapi Chubie gak pernah menggemuk seperti sedia kala.

Puncaknya tanggal 16 Juni 2014 kemarin. Pagi-pagi Bu Cs laporan Chubie sudah gak mau makan. Kemudian aku ketemu dia diparkiran. Biasanya dia berlari dengan riang menyambut dan mendatangiku. Tapi kali ini nggak. Dia berhenti untuk minum genangan air hujan dirumputan kemudian hanya menatap sayu. Hanya mendusel-duselkan kepala ke kaki. Kuajak pergi, tapi dia gak mengikuti lagi. Malah duduk lemah. Hatiku dipukul palu rasanya. Entah kenapa jauh dihati mengatakan rasanya waktu kami tinggal sedikit tersisa. Akhirnya kugendong dibawa ke dapur dan mengobrol. Badannya terasa ringan sekali. Chubie diputuskan dibawa pulang ke rumah. Selama ini dia memang gak pernah betah dirumah. Stress dan selalu kembali ke klinik. Chubie memang gak pernah mau berkumpul dengan banyak kucing lain. Dulu dia terusir oleh Kakak Ganteng, di rumah sering berkelahi dengan siapa saja, gak pernah tenang hidupnya. Dia jauh lebih bahagia diklinik. Meskipun kalau malam hujan lebat selalu bikin kuatir memikirkan dia gimana.

Senin malam itu, setelah suami pulang kerja, dia kami jemput. Kalau kami datang dia dan Emak selalu berlari menyambut. Malam itu nggak. Setelah dipanggil-panggil, yang muncul cuma Emak. Ternyata Chubie masih asyik main di kegelapan. Berjalan pelan keluar dari kebun belakang. Entah sedang berburu kodok atau mengobrol dengan biawak. Kami bawa dia pulang.

Dirumah dirawat sebisanya. Makan gak mau. Hanya mau minum. Lama-lama minum pun gak mampu. Infus sub kutan (yang dulunya sangat takut aku lakukan) selalu kuberi karena Chubie tampak dehidrasi sekali. Badannya langsung mengurus drastis. Tinggal tulang terbalut kulit. Tapi dia bertahan. Aku tempatkan kandang didekat pintu belakang biar dia bisa melihat halaman setiap pagi. Akupun bisa mengawasinya setiap saat. Chubie masih berusaha minta keluar. Beberapa kali aku keluarkan. Dengan sempoyongan dia berjalan, gak bisa jauh dan kadang terjatuh. Masih mengeong lemah.

chubs-wawachubs-wawa

Hari berlalu, aku selalu minta dia kuat dan berusaha untuk sembuh. Infus, madu, kuning telur, antibiotik, kaldu ayam..semua ditolak. Muntah. Sampai akhirnya karena putus asa, aku spet-kan ASI ke mulutnya. Dia mau menelan. Aku bahagia. Malamnya dia pup. Aku pikir pencernaannya masih berfungsi bagus. Beberapa hari memang dia hanya pipis saja karena infus. Ternyata Chubie salah satu pemberi harapan palsu. Dia melemah lagi. Seringkali dia ingin minum, terpaku didepan tempat minum sampai dagunya basah. Tapi gak bisa membuka mulut. Kalau sudah begitu, aku spet cairan infus. Aku sudah tak tega menyakitinya dengan jarum.chubierip2

Satu hal yang aku takutkan, dia pergi tanpa aku temani. Rasanya ingin sekali membagi diri, kerja, anak, rumah, dan Chubie. Gak bisa senantiasa merawatnya itu menyakitkan. Andai saja ada dokter hewan disini mungkin akan lebih tenang kalo dia diinapkan. Entahlah…aku hanya bisa semampuku. Bahkan diagnosa penyakitnya saja gak jelas. Hanya bisa menebak-nebak. Setiap malam aku mencoba tidur selarut mungkin, bangun sedini mungkin sebelum subuh. Memastikan Chubie tak terlalu lama diabaikan. Karena hanya saat Naka (dan suami) sudah tidur, barulah bisa tenang mengobrol dengan Chubie. Rasanya waktu sudah semakin mencapai batas. Beberapa sahabat selalu ada untuk menguatkan. Bahkan mengirimkan vitamin buat Chubie (yang baru aku terima 2 hari setelah dia pergi. Makasih banyak Cess..).chubrip3

Hari Minggu, aku harus praktek karena minggu sebelumnya sudah libur, dan berencana libur lagi minggu depannya. Subuh sudah bersama dia. Aku minta dia kuat. Dia tetap tampak tampan walau dengan wajah yang semakin tirus dan mata semakin sipit. Hidungnya juga masih berwarna pink pucat. Aku kerja dengan perasaan gak tenang sampai sore. Dalam perjalanan pulang aku membatin tunggu ya Chub, aku pulang sekarang. Gak terbayang kalo aku pulang ternyata dia sudah pergi. Lega rasanya melihat dia masih ada sewaktu aku tiba dirumah. Minta tolong suami untuk menjaga Naka sebentar sementara aku mengganti alas dan memberi Chubie minum. Pasti dia sangat kehausan. Gak lama, pekerjaan rumah lain menanti. Maghrib menjelang.chubsrip4

Chubie anak yang sangat baik…Sangat pengertian.

Setelah semua tugas selesai. Setelah Naka tidur pulas. Aku menghampirinya, menyapanya. “Hai ganteng..”. Dia memukulkan ekornya lemah dan berkedip. Dia hanya berbaring dan gak bisa angkat kepala lagi. Aku bersiap membersihkan kandang Kido, anak kucing baru yang sedang diare. Tapi aku dengar Chubie seakan memanggil. Aku menoleh dan terpaku. Baik, mungkin ini waktunya.

Kutegarkan hati. Kuelus dia dari luar kandang. Halus sekali..Dia tampak begitu bersih, padahal kemaren dia belepotan pup. Gak ada sisa bau sama sekali. Nafasnya pelan. Aku keluarkan dia,dan kuletakkan dipangkuan. Beberapa kali dia bernafas pelan. Ini saatnya…

“Baiklah Chub, mungkin tugas kamu sudah selesai menemani aku. Sekarang ada Ompapa juga Naka yang menjagaku. Gantiin tugasmu. Chubie pasti sakit sekali. Kalau Chubie sudah gak kuat,kalau Chubie mau, Chubie boleh kok pergi”

Kalimat perpisahan itu akhirnya terucap juga. Ada yang bilang mereka memang menunggu kita untuk mengucapkan kata-kata itu baru pergi. Selama ini dia mencoba kuat dan berjuang untuk bertahan sampai kita siap ikhlas melepas mereka. Selama ini kita selalu bilang mereka harus kuat, harus berusaha buat sembuh. Mereka menuruti kata-kata kita. Mereka mendengar, dan mereka patuh.

Airmata yang tadinya hanya satu-satu menetes akhirnya gak terbendung lagi. Menenangkannya setiap kali kaki atau tangannya mengejang lemah, aku bisikkan kata sayang, doa, pujian, permintaan maaf dan terima kasih tiada henti. Suamiku akhirnya bergabung membelai Chubie. Kami menemaninya.

Chubie anak yang sangaaaat baik…

Sesaat sebelum dia pergi, dia mengejang pelan, kepalanya yang tadinya terkulai ditangan tiba-tiba terangkat, menoleh menghadapku. Seakan berpamitan. Ini waktunya. Tangisku semakin kencang, dengan reflek kucium dahinya. Kemudian dia kembali terkulai. Mengejang pelan lagi. Begitu tenang, begitu bersih. Dan akhirnya dia pergi….

Waktu menunjukkan pukul 08.10 malam..Setengah jam kemudian dia dimakamkan disamping makam Florence di halaman belakang.

Tak terungkapkan dengan kata-kata bagaimana rasanya. Sampai detik ini.

Terima kasih Chub..atas semua cinta, kenakalan, kebahagiaan yang kamu beri.

Karena kamu aku punya banyak teman.

Denganmu, duniaku luas berwarna

Aku pasti kangen Chub..boleh kan?

Disini gak sama lagi, gak ada yang berlari menyambut

Gak ada yang minta bukain pintu

Yang naik dan duduk dimeja

Maafkan aku kadang bikin kamu ngambek Chub..

Aku sayang kamu Chub..kamu tau kan?

Tak tergantikan Chub..Tak terlupakan

Abadi dalam ingatan

Selamat jalan…berlarilah duluan ke sana.

Tunggu yah, suatu hari pasti kita ketemu lagi.

Kamu menungguku kan Chub?

chubieRB

 

*Terima kasih banyak buat Didi, Kinan, Mbak Qori, Mbak Noor dan Nalia yang sudah ikut kuatir beberapa hari kemarin*

-BUTHIE-

Saat Emak Kesurupan

Emak itu kucing yang katanya Bu Cs, pendiam, suka mengalah, gak neko-neko. Kalau mamaku bilang si Emak kucing yang manis tapi bisa berubah jadi galak kalau ada yang mengganggunya. Tipikal ibu-ibu gitu deh..

emak1

Yaaaa…Selama tinggal sama Emak sih, dia gak pernah melawan kalo aku ambil makanannya. Gak pernah membalas kalo aku iseng ngerjain dia.

emak2

Emak juga gak pernah misuh-misuh kalo aku ngagetin dia dari belakang.

emak3

Untunglah Emak gak punya riwayat jantungan >__<

Tapi suatu hari menjelang senja dihari Kamis…Aku melihat Emak keluar dari semak di belakang klinik sambil membawa sesuatu. Penasaran, aku sapa donk…

emak4“Maak…Bawa apaan mak?”

emak5

Waktu Emak balik badan..Jeng..Jeeeeng!!! Mata Emak menyala!! Emak kesurupan!!  Di senja menjelang malam Jumat Kliwon. Dan emak berubah menjadi pemangsa yang kejuuuaamm..!! Itu tupai unyu-unyu sudah tak berdaya dimulut Emak. Aku langsung bertindak cepat dengan memohon kepada Tuhan semoga Emak dibebaskan dari kesurupannya. Setelah beberapa menit, akhirnya Emak pun kembali ke dunia nyata.

emak6

Emak sadar, yang ditandai dengan matanya yang sudah tidak menyala-nyala lagi. Hiiiyyy…Tupai pun langsung diletakkan ke tanah.

emak7

Tapi sayang, tupai sudah terlalu sekarat buat bertahan. “‘ Trus gimana ini Chub?? Aku nyesel banget gak sadar nangkap dia. Ini yang suka ngintip kamu pup di deket pohon sana itu kan yah?” / ” Bukan, itu sodaranya. Tapi ini ya mau gimana lagi mak..Kamu gigitnya bersemangat sekali”

emak8

“Coba aku bangunin dulu, sapa tau cuma pingsan.” / “Iya Chub, coba towel2 kakinya.”

emak8“Gak berhasil mak…” / “Gimana dong Chuuub….Masa kamu nyerah gitu aja?” . Hih, si Emak nih, dia yang bikin perkara aku yang dipaksa-paksa.

emak9Aku coba men-CPR si tupai. Tau CPR gak? Itu loh resusitasi jantung, kayak yang sering aku liat di UGD klinik. Aku tekan-tekan dadanya pake dua kaki depan aku. Tapi tetap gak berhasil juga. Si Tupai sudah tiada.

emak10

Ya sudahlah..Akhirnya aku gendong si Tupai yang sudah pergi itu. Aku kembalikan ke semak-semak tempat Emak tadi menangkapnya.

emak11

Sementara Emak tampaknya menyesali perbuatannya. Dia terus termenung sampai keesokan hari. Makanya Mak, jangan sering melamun. Ntar kesurupan lagi loh..

 

Pem-bully-an

bully1

Kalau yang begini….

bully2

Ketemu yang begini…

bully3

Kemudian mulai kepo..Endus-endus..

bully4

Towal-towel..

bully5

Heh! Apaan sih..??!!

bully6

Lalu mulai memanggil teman..

bully7

Yang lain pun ikut datang  –__–

bully8

Heyy..!! Beraninya main keroyokan..!

bully9

Jangan ganggu aku..!

bully10

Kucing-kucing jahil macam begini…

bully11

Sebaiknya ditelan saja..!

bully12

Tapiiiii…Aaaakkkkk….!!! *malah dijadiin tarik tambang*

bully12

Dibawa kabur ama Kitty..

bully13

Lepasiiiiin….!

bully13

Perlawanan terakhir…

bully14

Dibalas gigitan pamungkas.

bully15

The End 😦

“PS : Stop membully yang lemah..Apalagi dijadikan mainan –__–  , pesan Chubie ganteng baik hati dan penyayang”

Welcoming baby Naka…(late post kebangetan)

Jadi ceritanya tanggal 18 Februari 2014 kemaren tuh anggota keluarga manusia mamaku bertambah satu. Panggil aja baby Naka. Namanya panjang aku malas nulis disini. Aku belum ketemu empat mata sih ama dia, soalnya terakhir mama ngajak Naka ke tempat aku pake kereta bayi aku masih agak-agak gimanaa gitu..Suara stroller itu bikin geli telinga, jadi aku malas buat mendekat. Lagian bau bayi itu ternyata aneh banget. Gak kayak bau tongkol pindang Bu Cs…

Aku harap sih Naka ada kontak batin ama aku, soalnya sejak dalam perut mama dia selalu aku hibur dengan dengkuran yang merdu.

babynaka1

Sampai hari-hari terakhir mama kerja sebelum cuti melahirkan aku terus memantau perkembangan Naka.

babynaka2

Waktu Naka mulai besar didalam perut, aku kadang merasa dia mulai iseng menendang aku yang lagi dipangku. Gak mau berbagi banget ni anak..Awas aja ntar!

Selama mama cuti 3 bulan, aku dititipkan ke Bu Cs, mama cuma menyuplai dana aja setiap minggu. Tapi kalo malam aku diantarin makan ama ompapa. Terjamin walaupun kangen juga ama mama.

Mama cuti per tanggal 1 Februari kemaren, karena menurut perkiraan dokter HPL-nya sekitar tgl 10 atau bisa lebih cepat. Sambil nunggu-nunggu hari H, mama memaksa diri menyempatkan foto hamil yang gak sempat-sempat dari dulu. Keburu lahiran ntar nyesel loh..Foto sendiri aja, sayang duitnya kalo musti bayar orang. Aku gak ikutan karena mama foto-fotonya dirumah. Ini salah satunya.

Waktu hamil masih megang-megang kucing?? Apa gak takut kena toxo? Gak bahaya? Banyak banget yang bilang gitu ke mama. Tiap ketemu tetangga yang tau atau teman-teman mama yang ngerti kalo mama punya banyak kucing pasti tanya. Kucing-kucingnya dikemanain? Ya maksud looo…?

Mama sewaktu hamil ya masih aktif merawat kami, meskipun beberapa tugas dilimpahkan ke ompapa atau asisten dirumah. Tidur juga masih bareng-bareng tiap malam. Terutama si Chimong yang paling suka tidur dikamar. Mama yakin dia sehat, Naka juga sehat. Awal-awal pas tau dia hamil mama langsung periksa TORCH. Hasilnya negatif. Aman buat kehamilan. Sebelum nikah dulu kan juga udah periksa. Yang penting intinya sih hati-hati dan selalu jaga kebersihan. Yang nggak piara kucing aja bisa kok kena toxo. Aku malas menjelaskan panjang lebar. Kalo mau tau lebih lanjut ya browsing aja, atau buka disini nih..Tante vet Nalia menjelaskan soal toxo. Seingatku waktu itu tante Nalia juga kena toxo sebelum hamil, tapi dengan pengobatan rutin, dedek Zidia lahir dengan sehat selamat dan tumbuh jadi balita yang unyu-unyu. Jadi kenapa harus takut toxo?? #TidakTakutToxo

Oh, terus balik ke cerita lahiran. Sampai tanggal 10 ternyata belum ada tanda-tanda Naka mau keluar, mama kontrol ke dokter. Katanya kalo 3-4 hari belum muncul juga kontrol lagi. Tanggal 15 mama kontrol lagi..Dokter bilang air ketuban masih cukup, gak perlu kuatir. Tanggal 17  ke dokter lagi hahahahaa…disuruh pulang karena belum ada tanda berarti. Akhirnya diperjalanan pulang mama bilang, terserah Naka aja deh mau keluar kapan. Ternyata subuh besoknya jam 2 pagi mules-mules deh. Dan jam 09.30 pagi Naka menangis untuk pertama kalinya. 3,37 kg , panjang 50 cm. Sehat sempurna..meski ternyata air ketuban udah hijau. Jadi diobservasi dulu.

babynaka3

2 hari dirumah sakit mereka pulang ke rumah. Mama bilang sih untung banget bisa cepet pulang, kalo nggak ompapa bisa tambah gemuk. Soalnya makanan di resto rumah sakit ternyata lumayan banget rasanya. Ompapa ketagihan hahahaha…Jadi tiap jam makan, diruangan selalu ada 3 porsi menu. Satu menu rumah sakit buat mama, yang dua itu makanan pesenan ompapa. Bahkan tengah malam pun dengan alasan begadang dia pesen makan ke resto . Sampai-sampai pas kontrol pertama setelah Naka umur seminggu, pelayan resto-nya ingat ama ompapa, ” Ini yang kamar 107 kemaren kan?”  —___—

Beberapa hari dirumah, terjadilah insiden terhempasnya hape mama gara-gara heboh ama si Wawa. Langsung mati gak bangun lagi. Hati mama juga ikut terhempas, berhubung kalo dibenerin semua data hilang termasuk foto-foto hari pertama Naka. Karena itu hape baru, mama pun dengan cerdasnya belum memasukkan memory card ke hape. Jadi selama ini semua foto cuma tersimpan di internal memory. Ini juga jadi salah satu alasan kenapa aku lama nggak meng-apdet blog ini. Padahal banyak cerita sih benernya.

Naka sekarang sudah 3,5 bulan umurnya. Udah bisa tengkurep, dan tentu saja udah terbiasa dengan para kucing dirumah. Kapan-kapan aku tunjukin foto mereka.

babynaka4

Doakan Naka selalu sehat ceria dan jadi anak sholeh yang membanggakan mama dan ompapa yaa…babynaka5

Selamat datang Baby Narendra…*salim tangan*